Sabtu, 6 September 2008
Harga Minyak Naik Terus
Angka 150-200 Dollar AS Per Barrel Bisa Terjadi 6 Hingga 24 Bulan Lagi
AP Photo/Esteban Felix / Kompas Images
Seorang sopir taksi berjalan di antara jejeran taksi yang sengaja diparkir di jalan di Managua, Nikaragua, Senin (5/5). Aksi ini merupakan bentuk protes atas kenaikan harga bahan bakar minyak.
Rabu, 7 Mei 2008 | 01:04 WIB

London, Selasa - Harga minyak mentah di pasar internasional terus mencapai rekor baru. Pada perdagangan Selasa (6/5), di London, harga minyak sempat menyentuh 122 dollar AS per barrel. Itu berarti harga minyak telah menjadi dua kali lipat hanya dalam tempo 12 bulan bulan terakhir.

Berbagai faktor membuat harga minyak naik, yakni terganggunya pasokan dari Nigeria karena pemogokan dan penyerangan kelompok militan. Selain itu, tensi yang meninggi di Iran karena negara itu menolak inspeksi program nuklir. Nigeria merupakan produsen minyak terbesar Afrika. Iran merupakan produsen minyak keempat terbesar di dunia.

Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juni naik menjadi 120,93 dollar AS per barrel walau kemudian turun menjadi 119,88 dollar AS per barrel. Minyak jenis Brent London naik 33 sen menjadi 118,32 dollar AS per barrel setelah sebelumnya mencapai rekor pada posisi 119,07 dollar AS per barrel.

Komoditas lainnya, emas, juga menguat. Meningkatnya harga minyak membuat harga emas kembali naik setelah empat bulan melemah. Namun, harga emas masih berada di bawah rekor tertingginya pada posisi 1.030,8 dollar AS per ounce atau setara dengan 31,1 gram.

”Penurunan harga minyak pekan lalu tampaknya hanya koreksi sesaat,” ujar Christopher Bellew, Wakil Presiden Senior Bache Commodities. Pekan lalu harga minyak sempat turun 10 dollar AS per barrel karena berkurangnya spekulasi serta pemogokan berakhir.

Goldman Sachs, lembaga investasi, memprediksi harga minyak akan melonjak hingga 150- 200 dollar AS per barrel karena kurangnya pasokan. ”Kemungkinan harga minyak bisa mencapai 150-200 dollar AS per barrel. Ini tampaknya akan nyata dalam enam hingga 24 bulan ke depan,” demikian pernyataan Goldman Sachs.

Lembaga investasi AS itu telah memperkirakan pada tahun 2005 bahwa harga minyak memasuki periode ”harga yang sangat tinggi”.

Rekor harga minyak ini membuat keprihatinan semakin meluas di berbagai kalangan di dunia. Menteri Minyak Kuwait Mohammad al-Olaim mengatakan, pekan lalu Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kemungkinan menyelenggarakan pertemuan khusus mengenai harga minyak pada September.

Pejabat sementara Menteri Perminyakan Libya Chukri Ghanem belum lama ini mengindikasikan OPEC tak dapat menaikkan produksi lebih banyak.

Kondisi pangan

Selain minyak, krisis pangan juga terus melanda seluruh penjuru dunia. Bencana alam topan tropis Nargis yang terjadi di Myanmar memorak-porandakan kawasan delta Irrawaddy yang merupakan daerah penghasil beras utama Myanmar.

Kerusuhan di Mogadishu, Somalia, sudah berlangsung selama dua hari. Selain karena kenaikan harga pangan, penduduk marah karena toko-toko menolak pembayaran dengan uang lama yang sebenarnya masih berlaku sebagai pembayaran sah. Tindakan ini memperburuk keadaan karena penduduk sudah kelaparan.

”Saya lapar dan tak dapat membeli makanan. Saya takut kami akan mulai saling makan satu sama lain,” ujar Abdifatah Hussein, warga Mogadishu, seraya memegang segepok uang shilling Somalia.

Para penjual lebih menyukai dollar AS atau uang baru. Satu dollar AS setara dengan 34.000 shilling. Dalam satu tahun terakhir shilling sudah melemah 150 persen.

Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan, satuan tugas bentukan PBB akan bekerja dengan kekuatan penuh dalam mengatasi krisis pangan. Senin pekan depan, Ban akan bertemu dengan satgas dan segera mengirimkan undangan kepada para pemimpin dunia untuk bertemu pada pertemuan FAO di Roma 3-5 Juni membahas cara mengatasi krisis pangan.

Sementara itu, Thailand membatalkan rencana membentuk kartel beras di kawasan Asia Tenggara yang sedianya akan menentukan harga beras.

Usulan pembentukan kartel beras, seperti Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), diajukan Perdana Menteri Thailand Samak Sundaravej agar produsen beras dapat mengontrol harga lebih leluasa. Harga beras sudah berlipat tiga sejak Desember. Namun, ide ini menuai kritik dari Filipina yang merupakan importir beras terbesar juga dari para eksportir beras Thailand.

”Jika Thailand membentuk kartel dan menentukan harga, itu akan memperburuk keadaan,” ujar Menteri Luar Negeri Noppadon Pattama setelah bertemu dengan para duta besar negara pengekspor beras di Bangkok, Selasa. (AP/AFP/Reuters/joe)

 

 

A A A
BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort