Jakarta24° - 33°
Senin, 12 Mei 2008
REDAKSI YTH
Sabtu, 19 April 2008 | 00:34 WIB

Isi Paket Lewat Pos Hilang

Pada tanggal 14 Maret 2008, saya ke Kantor Pos Depok Timur di Jalan Kerinci Raya, Depok, bermaksud mengambil titipan paket dari Jepang. Sebelumnya, menurut pegawai pos yang mengantar paket tersebut, paket itu sudah dua kali dikirim ke rumah, tetapi rumah dalam keadaan kosong sehingga dibawa lagi ke kantor pos.

Paket saya ambil sendiri dan tidak langsung dibuka di kantor pos, tetapi saya buka di perjalanan pulang ke rumah. Namun, alangkah terkejutnya saya, ternyata isi paket berupa jam tangan merek Benetton dalam dus tidak ada.

Yang membuat saya curiga, amplop di luar masih tertutup rapi. Namun, setelah dibuka kelihatan bahwa amplop tersebut sudah pernah dibuka, kemudian dilem dan ditutup lagi. Anehnya lagi, kertas kado pembungkus kotak jam di dalam amplop tersebut sudah terbuka dan setelah dilihat, di dalamnya sudah tidak ada jam dimaksud.

Saya langsung kembali ke kantor pos dan melaporkan untuk menanyakan keberadaan isi paket, apakah hilang di kantor pos, Bea dan Cukai, atau di mana. Menurut penjelasan pegawai pos (Bapak Rizal), isi paket kemungkinan hilang di Bea dan Cukai, tidak mungkin hilang di kantor pos. Atas kejadian itu, saya membuat berita acara kehilangan yang ditembuskan kepada Bea dan Cukai dan disuruh menunggu kabar dari kantor pos.

Tanggal 17 Maret 2008, saya mencoba mengonfirmasi kembali, tetapi jawaban dari kantor pos (Bapak Yono) agar saya menunggu kabar dua hari lagi. Pada tanggal 24 Maret 2008, saya mencoba lagi, ternyata dari pihak kantor pos belum juga memproses berita acara yang saya buat.

Saya pesimistis paket itu bisa kembali karena tidak pernah tahu hilang di mana barang tersebut, sedangkan kantor pos tidak bisa menindaklanjuti. Kejadian ini membuat saya tidak percaya lagi menggunakan jasa pelayanan kantor pos.
YENNY OCTAVIANA Kompleks Kopassus Pelita II Sukatani, Cimanggis, Depok


Pengalaman dengan Penyalur PRT

Pada 6 Maret 2008, istri saya mengambil tenaga kerja untuk pembantu rumah tangga (PRT) di Jaya Mandiri, beralamat di Jalan Taman Cilandak Raya, Jakarta. Keesokan harinya, PRT tersebut mengeluh sakit gigi sehingga seharian hanya tidur, kemudian pada hari kedua minta dipulangkan ke yayasan. Istri saya menelepon sekretaris di yayasan tersebut (Saudari Yuli), yang menyanggupi untuk memberikan pengganti keesokan harinya (8/3).

Namun, pada tanggal yang dijanjikan yayasan belum mendapat pengganti dan berjanji akan menjemput serta memberi pengganti pada tanggal 9 Maret 2008, tetapi tidak kunjung datang juga. Ketika ditelepon, dijelaskan bahwa pengganti dalam perjalanan dari kampung dan akan sampai Jakarta sore hari, sementara pembantu di rumah terus menangis dan tidak mau makan sehingga membuat kami kebingungan. Setelah ditunggu hingga sore juga tidak kunjung datang sehingga istri saya harus menelepon lagi, dan jawaban dari yayasan adalah bahwa pengganti yang baru datang belum mau bekerja.

Saya sudah tidak percaya dan memaksa yayasan tersebut untuk menjemput pembantu yang ada di rumah dan ongkos transpor akan saya ganti. Ternyata sampai dua minggu belum ada pengganti sehingga istri saya menelepon untuk menanyakannya dan dari pihak yayasan bilang belum ada pengganti. Ini berarti apabila sampai 30 hari belum ada pengganti, berarti uang jasa administrasi yang sudah dibayarkan sebesar Rp 600.000 dianggap hangus dan tidak diberikan peng- ganti.
Hengky Mutiara Taman Palem B1, Cengkareng, Jakarta


UOB Buana dan Fitness First

Saya anggota Fitness First Plus di Senayan City, Jakarta. Sebulan lalu saat sedang fitness, saya ditawari kartu kredit UOB Buana yang sedang berpromosi di lobi Fitness First tersebut. Anggota staf pemasarannya, Nur Handayani (DS1107-53595), menawarkan promosi gratis tiga bulan untuk satu tahun keanggotaan klub Fitness First dengan cicilan 0 persen, dan UOB Flexipay untuk jangka waktu 3, 6, atau 12 bulan. Saya tertarik dan mengisi aplikasi kartu kredit UOB Buana tersebut.

Dua minggu setelah itu kartu kredit UOB Buana Gold saya dikirim ke rumah. Saya langsung pergi ke Fitness First Senayan City untuk mengganti pembayaran iuran bulanan menggunakan kartu kredit UOB Buana.

Saat itu saya dilayani oleh petugas front office (Saudari Iin). Alangkah terkejutnya saya ketika petugas Fitness First menjelaskan bahwa hanya bisa mendapat gratis iuran selama satu bulan. Alasannya, gratis tiga bulan hanya untuk member yang iuran bulannya Rp 460.000, sedangkan iuran saya hanya Rp 395.000.

Saya komplain karena anggota staf pemasaran UOB Buana tidak pernah menyebutkan syarat tersebut. Selain itu, di pamflet UOB Buana yang diletakkan di depan Fitness First juga hanya menyebut gratis tiga bulan untuk pembayaran iuran Fitness First tanpa ada embel-embel lain. Begitu juga di newsletter UOB Buana yang ditandatangani langsung oleh Executive Vice President UOB Iwan Notowidigdo. Saat itu pihak Fitness First berjanji akan menyampaikan ke manajer dan akan menghubungi saya melalui telepon.

Hingga kini pihak Fitness First tidak pernah menghubungi saya. Saya menelepon layanan pelanggan UOB Buana pada 1 April 2008 (diterima oleh Saudara Setyo) yang menyatakan heran dengan kebijakan sepihak Fitness First tersebut dan menyatakan bahwa gratis tiga bulan iuran Fitness First berlaku bagi semua anggota Fitness First.

Pihak Fitness First agar beritikad baik memenuhi tanggung jawab. Kalau memang tidak berniat membuat promosi, jangan membohongi konsumen.
Tomy Gutomo Jalan Danau Towuti E I/43, Bendungan Hilir, Jakarta


Jebakan Cicilan Kartu BII

Pada tanggal 17 Maret 2008 saya bertransaksi dengan kartu kredit BII di toko komputer. Begitu saya lihat slip kopi tertulis cicilan 12 bulan sebesar Rp 291.667 di bawah tanda tangan, saya pikir itu hanya iklan. Namun, setelah saya tanya ke BII Card Centre, ternyata transaksi sudah dijadikan Xpay 0 persen selama 12 bulan secara otomatis. Spontan saya marah karena merasa tidak mengajukan permohonan cicilan, dan ketika saya tanya memang tidak ada permintaan tapi secara otomatis. Masih menurut petugas BII, itu adalah promo merchant.

Ketika saya meminta dibatalkan, petugas menjawab: ”Langsung ke merchant saja.” Setelah saya ke merchant dijelaskan tidak bisa dibatalkan karena lebih dari satu hari. Saya menelepon lagi ke BII Card Centre dan dijawab tidak bisa, padahal saya tak pernah mengisi aplikasi cicilan. Namun, mereka minta kembali ke merchant untuk meminta surat pernyataan. Bukankah ini kesalahan pihak BII dan merchant? Tapi, mengapa nasabah selalu direpotkan? Sejak kapan BII bisa seenaknya mengubah transaksi nasabah menjadi cicilan tanpa permohonan atau persetujuan nasabah?

Walaupun cicilan 0 persen, pernahkah BII berpikir bahwa nasabah harus menanggung biaya administrasi pembayaran dan meterai selama 12 bulan bisa sampai Rp 120.000. Belum waktu dan tenaga serta biaya transpor setiap bulan. Mohon waspada menggunakan kartu kredit BII, sepertinya ini jebakan gaya baru. Satu lagi, buruknya penanganan komplain BII adalah sampai detik ini tidak pernah menghubungi saya, padahal petugas BII Call Centre (Saudara A) meminta ponsel saya dan berjanji akan menghubungi melalui supervisornya.
Catur Putro Jalan Yakub 12 A RT 005 RW 008, Kebon Jeruk, Jakarta


Kualitas Barang di Metro

Saya pemilik kartu Metro Yours (nomor: 6973257091) dan sudah lama menjadi pelanggan Metro. Selama ini berbelanja di Metro tidak pernah ada cacat dalam barang yang dibeli dan pasti dalam kondisi baik serta awet. Namun, saat Metro mengadakan Metro Big Sale one day only (22/2), saya membeli beberapa barang, salah satunya adalah sling bag Guchi, bahannya dari faux leather. Saya beli dengan harga sekitar Rp 275.000.

Ternyata, walaupun belum ada satu bulan pemakaian dan itu juga tidak rutin mungkin baru dipakai sekitar lima sampai enam kali, sekarang sudah ada bagian luar yang sobek, terutama di bagian dekat sling bag. Tas itu tidak dapat dipergunakan lagi karena hampir putus sling-nya. Padahal, barang bawaan saya tidak pernah terlampau berat karena memang tas untuk ke kantor saja.

Saya berharap department store sekelas Metro bisa tetap menyediakan tas berkualitas walaupun sedang masa diskon. Karena, bagaimanapun harga tas itu juga tidak murah. Pada tanggal 19 Maret 2008, saya sudah komplain ke Metro melalui formulir yang ada di situsnya. Tertulis, jika ada keluhan akan ditindaklanjuti dalam jangka waktu 14 hari. Namun, hingga sekarang belum ada respons apa pun dari pihak Metro. Mengecewakan.
Irma Devianti Lubang Buaya Nomor 28, Cipayung, Jakarta


Bunga dan Denda Terlambat

Sehubungan dengan surat di Kompas (8/4) ”Kartu Niaga Lewat ATM” yang disampaikan oleh Bapak Aries Setiawan, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan. Kami sudah bertemu dengan Bapak Aries Setiawan untuk menjelaskan permasalahan dan yang bersangkutan dapat memahami. Bunga dan denda akan dikenakan apabila terjadi keterlambatan pembayaran.
Dina Sutadi Vice President Corporate Communication Division Head Bank Niaga


AJB Telah Ditandatangani

Sehubungan dengan surat di Kompas (9/4) ”KPR Artha Graha Mengecewakan” yang disampaikan oleh Bapak Deni Handhoko perlu dijelaskan, kami telah menghubungi Bapak Deni Handhoko dan yang bersangkutan menjelaskan bahwa akta jual beli (AJB) telah ditandatangani.
Jimmy Lingga Corporate Secretary PT Bank Artha Graha Internasional, Tbk


Banyak Penumpang Daftar Tunggu

Terkait dengan surat di Kompas (14/4) ”Tiket Batavia Dijual Kembali” yang disampaikan Ibu Eva perlu diklarifikasi. Pesawat Batavia (7P-344) rute penerbangan SUB-JKT (23/3) jadwal keberangkatan pukul 14.30 WIB. Sesuai peraturan yang tertera di Batavia Air E-Ticket Receipt & Itinerary, counter check in buka dua jam sebelum keberangkatan dan akan ditutup 45 menit sebelum jam keberangkatan.

Sementara itu, Ibu Eva melakukan check in 41 menit sebelum jam keberangkatan sehingga counter check in sudah tutup. Saat kejadian adalah hari Minggu, hari terakhir sesudah libur panjang empat hari sehingga banyak calon penumpang pada posisi daftar tunggu (waiting list). Karena sampai batas waktu 45 menit sebelum waktu keberangkatan Ibu Eva belum juga hadir di counter check in, kursi yang kosong tersebut diberikan kepada calon penumpang dengan posisi daftar tunggu.

Mohon maaf atas ketidaknyamanan. Kami mengimbau kepada calon penumpang Batavia Air agar melakukan check in lebih awal dan tidak membeli tiket lewat calo di bandara. Beli tiket melalui kantor penjualan Batavia Air atau agen resmi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena sistem pertiketan Batavia Air saat ini telah menggunakan tiket elektronik.
Eddy Haryanto Manajer Humas PT Metro Batavia


”Call Forward” Diaktifkan

Menanggapi surat Ibu Indriyani yang disampaikan lewat Kompas (5/4) ”Pulsa Telkom Flexi Hilang”, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan. Perlu dijelaskan, berdasarkan hasil pengecekan sistem data pelanggan diketahui, yang bersangkutan saat itu mengaktifkan call forward ke nomor GSM sehingga secara otomatis apabila ada panggilan (call)  ke Flexi, secara sistem langsung dialihkan ke nomor GSM.

Dengan demikian, pulsa pada nomor Flexi terpakai untuk menghubungi ke nomor GSM tersebut adalah call forward.
Retno Dyah Manajer Divisi Komunikasi Divre II Jakarta PT Telkom Indonesia Tbk

 

 

BERITA TERPOPULER

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort