Rubrik
Politik & Hukum
Berita Utama
Olahraga
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
International
Finansial
Opini
Humaniora
Sumatera Bagian Utara
Sumatera Bagian Selatan
Pilkada 2005
Jawa Barat
Berita Yang lalu
Perbankan
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Swara
Dana Kemanusiaan
Esai Foto
Rumah
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan
Pixel
Makanan dan Minuman
Fokus
Audio Visual
Ilmu Pengetahuan
Teropong
Wisata
Bingkai
Telekomunikasi
Otonomi
Bahari
Ekonomi Internasional
Properti
Interior
Sorotan
Bentara
Pendidikan Informal
Teknologi Informasi
Didaktika
Jendela
Tanah Air
Ekonomi Rakyat
Pergelaran
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Humaniora
Jumat, 01 April 2005

Solidaritas untuk Anak-anak Aceh dan Nias

NANGROE Aceh nyoe teumpat lon lahee/bak ujong pante Pulau Sumatra/dilee baroe kon lam jaroe kaphe/jinoe hana lee Aceh ka hampa....

LAGU indah sekaligus menyayat hati ini dilantunkan oleh ’Azyyati Himida, siswa kelas III SMA Negeri 3 Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, untuk mengiringi tarian meusekat yang ditampilkan tujuh remaja putri asal Aceh. Sebuah lagu yang bertutur tentang keindahan tanah Aceh di ujung pantai Pulau Sumatera yang kini tiada lagi, sudah hampa....

Tarian khas Aceh tersebut menyemarakkan peluncuran "Gelang Merah Solidaritas Kebersamaan Peduli Anak Indonesia untuk Dana Pendidikan Anak Indonesia" yang digelar di halaman Kantor Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak di Jakarta, Kamis (31/3).

Tujuh remaja putri itu mengenakan kostum Aceh berwarna merah dan kuning. Mereka melenggak-lenggokkan badan dan tangan dengan sangat luwes, mengikuti tetabuhan dan lantunan suara ’Azyyati. Penampilan mereka menarik perhatian sejumlah anak-anak dari Yayasan Kurnia yang menjadi audiens acara. Mereka ini adalah penghuni rumah singgah di Jalan Pedati, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Tak hanya tarian dan lagu-lagu Aceh yang mereka lihat dan dengarkan, tetapi juga penampilan belasan artis cilik dan remaja yang tergabung pada Persatuan Artis Remaja dan Artis Cilik Indonesia (Parci).

Berkaitan dengan situasi pascagempa dan tsunami di Aceh dan Pulau Nias, ditemukan fakta bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling menderita. Belum meratanya bantuan pendidikan pada anak Aceh dan Pulau Nias semakin memperparah kondisi pendidikan di Aceh dan Pulau Nias. Karena itu, Komnas Perlindungan Anak mendorong pemerintah mengintegrasikan hak-hak anak sebagai indikator penting dan tidak bisa diabaikan dalam program tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias pascabencana.

Untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak di lokasi bencana, Yayasan Tunas Cendekia menjual gelang merah seharga Rp 10.000 dan telah terjual 6.000 gelang. Komnas Perlindungan Anak mewujudkannya dalam bentuk mobil perpustakaan keliling. (LOK)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Perpres Perbukuan Terkatung-katung

·

Inovasi Sekolah Alternatif Sulit Diterapkan di Sekolah Reguler

·

Siapa Bilang Tunanetra Tak Butuh Akses Internet...

·

Siapkan Masyarakat Hadapi Gempa

·

NAD Siap Gandeng Swasta untuk Air Bersih

·

Solidaritas untuk Anak-anak Aceh dan Nias



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS