Ribuan Orang Dikhawatirkan Tewas
* AS Menyatakan Perang terhadap Teroris
New York, Rabu
Meski belum ada kepastian, bukti-bukti yang dimiliki unsur-unsur Pemerintah Amerika Serikat mengarah pada kelompok ekstrem Al-Qaeda, organisasi milyuner Osama bin Laden, sebagai tersangka utama serangan teroris yang meruntuhkan menara kembar World Trade Center (WTC) New York dan menghancurkan sebagian Gedung Pentagon, markas Departemen Pertahanan AS hari Selasa (11/9). Meski demikian, hingga saat ini, para pejabat AS masih menahan diri dan tidak langsung mengarahkan tuduhan kepadanya.Ribuan orang diperkirakan meninggal dalam tragedi terbesar itu. Sebab, dikhawatirkan ada sekitar 10.000 hingga 20.000 orang berada di WTC saat pesawat pertama menabraknya. Sementara itu, sekitar 800 orang lainnya diperkirakan juga tewas di Pentagon. Untuk itu, AS mengibarkan bendera setengah tiang.
Badan Intelijen AS mengatakan, dari semua kemungkinan yang ada, milyuner Osama bin Laden merupakan satu-satunya yang mendekati. Dengan alasan, ia satu-satunya yang memiliki cukup dana, organisasi, serta kenekatan dalam melakukan serangan di beberapa institusi intelijen AS, termasuk peledakan Kedubes AS di Afrika Timur 1998.
Senator AS Orrin Hatch mengatakan, intelijen AS menangkap pembicaraan di antara orang-orang yang terlibat dengan Osama dan menyinggung serangan di WTC dan Pentagon. "Mereka sudah sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya telah mendapat tanda tangan dari Osama bin Laden yang berada di belakang semua ini," katanya.
Investigasi FBI di Boston menunjukkan dua tersangka terbang dari Portland ke Boston. Kemungkinan besar ia beroperasi menggunakan sopir berlisensi New Jersey. Sekarang ini sedang diselidiki kemungkinan tersangka menyeberang Kanada menuju bandara Boston. Seorang pejabat memastikan mobil yang disita di Boston adalah milik para pembajak dan di dalamnya ditemukan buku manual penerbangan dalam bahasa Arab. Polisi menemukan puntung rokok di sekitar mobil yang akan digunakan untuk tes DNA.
Boston Herald menyebutkan, lima warga Arab telah diidentifikasikan sebagai tersangka, salah satu di antaranya dilatih menjadi pilot. Disebutkan pula, dua orang, termasuk pilot tersebut kakak beradik dengan paspor Uni Emirat Arab. Boston Globe melaporkan, salah satu tersangka membawa tas, antara lain berisi video penerbangan pesawat dan cara mengisi bahan bakar. WCVB-TV menyebutkan, salah satu dari mereka memberi tiket dengan uang tunai.
Pihak berwenang bandara Boston mengatakan, mereka menerima kontak yang tidak biasa dari pesawat American Airlines Nomor 11 yang meninggalkan Boston pukul 07.59 pagi, Selasa lalu dengan 92 penumpang dan dari pesawat United Airlines Nomor 175 yang lepas landas 15 menit kemudian, dengan 65 penumpang. Kedua pesawat itu menuju Los Angeles yang ditabrakkan ke menara kembar WTC.
Menjelang sore, FBI dengan bersenjata lengkap memeriksa satu kamar di Hotel Boston yang diperkirakan digunakan para pembajak. Kamar itu kosong, namun nama yang tertera merupakan salah satu nama pembajak.
Ribuan terperangkap
Wali Kota New York Rudolph Giuliani memperkirakan, masih ada ribuan orang yang terperangkap di reruntuhan yang masih terus berasap di reruntuhan kedua menara. Ia menyatakan perlu sekitar dua hingga tiga minggu untuk membersih-kan reruntuhan tersebut. "Kami mengambil 120 truk dari luar kota semalam, dan itu menunjukkan kepada Anda kira-kira berapa jumlah reruntuhan ini," ujarnya.
Hingga Rabu (12/9) kemarin, baru 45 korban ditemukan di antara reruntuhan WTC, termasuk enam polisi dan tiga anggota pemadam kebakaran. Salah satu korban di pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan 175 adalah warga negara Indonesia, Eric Samadikun Hartono, putra bungsu pengusaha Samadikun Hartono, dari Grup Modern.
"Kami menjamin suplai makanan akan sampai di kota, sehingga orang bisa melanjutkan kehidupannya," ujar Giuliani. Ia juga meminta masyarakat yang mempunyai rekaman video menyerahkan kepada polisi.
Manhattan, New York, dalam kondisi kacau-balau. Orang berlarian ke sana kemari seolah tanpa tahu tujuan dan apa yang akan dikerjakan. Seluruh gedung dikosongkan. Relatif, Manhattan masih belum bergerak Rabu.
Sekitar 2.000 orang dirawat di rumah sakit terdekat, 200 di antaranya kritis. Sebanyak 202 anggota pemadam kebakaran dinyatakan hilang di gedung WTC. Walau begitu, Badan Penerbangan Federal (FAA) mengatakan, membuka kembali penerbangan sipil di bawah pengaturan keamanan sangat ketat sekitar tengah hari.
Pentagon
Sementara itu, Rabu kemarin, Pentagon telah memulai kembali aktif meskipun pasukan pemadam kebakaran masih terus bekerja keras memadamkan api yang semalam suntuk melalap atap bangunan teratas. Masyarakat kembali ke Pentagon dalam barisan yang terdiri dari ratusan orang. Mereka berduyun-duyun membuka reruntuhan yang terus berasap. Sedang para pasukan penyelamat berusaha mencari tanda-tanda kehidupan di antara reruntuhan.
"Mereka tidak percaya ada yang masih hidup. Tetapi memang tidak ada tanda-tanda kehidupan," kata salah satu pejabat Pentagon.
Pihak berwenang Pentagon tidak bisa memperkirakan berapa yang terbunuh, hilang, atau terluka setelah sebuah pesawat jumbo jet Boeing 757 American Airlines yang dibajak, terbang begitu rendah dan menghantam lantai pertama markas besar militer AS dan meruntuhkan sayap barat gedung. Diperki-rakan ada sekitar 20.000 orang bekerja di Pentagon.
Polisi militer memblokade jalan. Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld mengatakan, Selasa dini hari, pejabat Pentagon saat ini sedang mengontak tiap departemen untuk memastikan anggotanya yang hilang. Dikatakan, angka pasti jumlah korban memang belum diketahui, namun yang pasti seluruh pe-numpang pesawat diperkirakan meninggal dan masih ada tambahan dari pegawai Pentagon sendiri.
Saat serangan terjadi, Rumsfeld berada di ruangannya, namun selamat. "Saya merasakan guncangan pesawat menghantam gedung ini, menembus gedung dan keluar dari area itu," ujarnya. Namun ia menolak memberi komentar kemungkinan pihak intelijen sudah memberi peringatan akan dekatnya serangan.
"Tiba-tiba mereka telah membawa korban terluka keluar, sebagian besar masih hidup. Dan banyak tenaga sukarela yang telah melakukan pekerjaan mulia dengan berusaha menyelamatkan mereka. Membawa me-reka keluar dari gedung, menuju tempat aman, ambulans atau pesawat," katanya.
Setingkat perang
Saat ini, seluruh pasukan AS di semua wilayah dalam kondisi siaga satu. Menteri Luar Negeri Colin Powell mengatakan, se-rangan teroris ini sudah bisa dikategorikan setingkat perang melawan AS dan negara demokratis. Karena itu, bisa mengundang tanggapan serius termasuk kemungkinan respons militer yang langsung memasang target kepada para pelaku.
"Ini bukan saja perang mela-wan Amerika. Ini perang melawan peradaban. Ini adalah pe-rang melawan segala bangsa yang percaya pada demokrasi," ujarnya. "Rakyat Amerika telah membuat keputusan; kita berada dalam perang, dan mereka menginginkan respons komprehensif. Mereka (rakyat AS-Red) menginginkan kita bertindak seolah-olah sedang dalam peperangan dan kami akan melakukannya," tegas Powell seperti dikatakan pada televisi CBS, program Early Show.
"Kita harus menanggapi seperti dalam perang dan kita harus menanggapi dalam konteks bukan serangan balasan kepada seorang individu. Ini akan menjadi konflik berkepanjangan dan harus dihadapi dengan berbagai front," kata Powell ke-pada televisi ABC, program Good Morning America.
Walau begitu, ia menolak mengatakan siapa yang dipercayai Washington berada di balik te-ror tersebut. Namun Powell selalu menggunakan referensi "mempunyai jaringan atau perlengkapan canggih" yang biasanya digunakan untuk menunjuk Al-Qaeda, organisasi Osama bin Laden.
(AFP/AP/CNN/BBC/CNBN/rie)
Berita UTAMA lainnya :