Cari Pekerja!KCM Webstore
KOMPAS Online
 
Koran Daerah
KCM Pindah
English Nederlands
>Senin, 10 September 2001

Karate Perlu Regenerasi

TIDAK terdulangnya satu medali emas pada pertandingan hari perdana karate SEA Games menyebabkan kubu Indonesia cukup masygul. Pasalnya, pada cabang ini kita berharap benar. Paling tidak, bisa ditimba tiga medali emas. Namun, kenyataan di lapangan, tidak satu medali emas pun yang bisa diperoleh. Yang berhasil direbut hanya tiga medali perak lewat karateka putri Meity Johana Kaseger di kelas +60kg, Endah Jubaedah dan Isfan Rahfisal Tanjung di kata putri dan putra serta tiga medali perunggu dari Umar Syarif, Novilus Tedius Joku, serta Jenny Zeanet.

Tragis memang. Apalagi di saat kita amat membutuhkan medali emas untuk perolehan keseluruhan sementara. Untuk cabang karate masih ada dua hari tersisa. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kita juga bakal kekeringan emas lagi? Kalau menilik penampilan atlet secara keseluruhan serta cara pengujian para wasit juri yang miring kepada atlet tuan rumah rasanya-kalau memang itu benar-hanya dua medali emas saja yang bisa direbut nantinya.

Adalah manajer tim karateka Tono Soeoed. Tokoh karate yang tahu banyak akan olahraga ini menyebutkan, karateka Indonesia sedang mengalami krisis prestasi. Dalam pengertian, karateka yang muda belum mampu menyodok prestasi mereka yang boleh dibilang sudah veteran. Ini terlihat jelas masih bergumulnya atlet lama Meity Johana Kaseger dan sejumlah nama lainnya.

Meity paling tidak sudah beberapa kali mengikuti event internasional termasuk SEA Games. Usianya pun sudah tidak muda lagi. Namun, karena dia masih yang terbaik di Tanah Air, maka posisinya belum lagi tergoyahkan oleh pendatang baru.

***

KITA tentunya tidak ingin menyalahkan atlet. Bahkan, Tono Soeoed yang mantan ketua bidang pembinaan PB Forki juga tidak berniat menyudutkan atletnya. Namun, secara keseluruhan kualitas atlet karateka kita memang menurun. Dalam arti, secara teknis mereka sudah ketinggalan.

Simak komentar wasit dan juri internasional, Josse Tolle. Dia mengatakan, atlet tidak bisa dipaksa untuk menyerap sesuatu yang baru dengan kilat. Semuanya perlu waktu. Menurut dia, faktor yang amat merugikan atlet adalah kurangnya pengalaman serta uji tanding di luar negeri.

Minim bertanding menjadikan latihan keterampilan kita tumpul. Tidak berbuah. Walhasil, di lapangan kita tidak bisa unjuk gigi sebagai karateka yang tangguh. Akibatnya, kurang berlaga di event internasional juga menjadikan penampilan atlet kita menjadi serba canggung. Serba tidak percaya diri. Belum lagi ditambah beban mental harus menang.

Menilik kesemuanya ini adalah wajar kalau keinginan untuk mendapat hasil terbaik tidak bisa terpenuhi. Selalu ada kekurangannya. Rasa waswas, penuh kehati-hatian menjadi warna dominan atlet yang tampil di pentas. Belum lagi hingar-bingarnya sorak penonton yang mendukung penampilan lawan. Kalau tidak berhasil lalu mencari kambing hitam.

Biasanya yang menjadi sasaran adalah wasit atau juri. Menurut Tono Soeoed yang juga wakil bidang pembinaan PB Forki, menyudutkan orang lain harus dihindari. Berlaga di kandang lawan, satu-satunya yang mampu mengantar atlet menjadi juara adalah mengantungi kemenangan telak dan bukan dengan menyalahkan orang lain.

***

TERLEPAS dari itu, tim karateka Indonesia secara keseluruhan sedang mencari jati dirinya. Pembinaan karateka muda sebagaimana disarankan sejumlah pengamat sudah layak mendapat tempat pertama. Sekalipun kita butuh regenerasi tidak berarti seluruh atlet yang berpengalaman dilepas. Kita masih membutuhkan tenaga mereka. Paling tidak bisa sebagai pendamping latih tanding atau juga malah sebagai calon pelatih.

Untuk menempa seorang mantan atlet menjadi pelatih juga perlu bimbingan. Mereka jangan dilepas begitu saja. Harus didik, diberikan keterampilan sehingga tidak hanya atlet yang dikirim ke luar memperdalam keterampilan tetapi juga para pelatihnya. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah memperbanyak hakim dan juri karate. Bukan untuk konsumsi dalam negeri, tetapi juga untuk ambil bagian dalam memimpin atau menjadi juri di event internasional.

Dengan masukan seperti ini, rasanya kekurangan kita secara teknis paling tidak bisa tertanggulangi. (Irving Noor)


Berita or lainnya :


Ramalan Bintang
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian Kompas