>Minggu, 6 Agustus 2000
"Ethnic Fusion",
Kerinduan Celia Dunkelman
|
| Kompas/arbain rambey |
|
|
|
|
MUSIK ternyata bisa menyatukan segalanya. Perbedaan kultur, budaya, dan politik, dapat diretas lewat musik. Melalui serangkaian komposisi ethnic fusion Celia Dunkelman, pendengar diajak melayang kemana-mana, menembus batas-batas yang ada. Berbagai instrumen etnik dari Bali dan Jepang, bersatu dalam sebuah kolaborasi.
Mendengar musik Celia, dunia terasa damai. Terkadang terdengar bergemuruh, membangkitkan semangat. Tak jarang pula membawa kita pada situasi kontemplatif. Itulah Celia Dunkelman (36) yang menggelar konsernya di Balairung Sapta Pesona Kantor Menteri Negara Pariwisata dan Kesenian, Jakarta, Jumat (4/8) malam dalam rangka ulang tahun ke-30 PT National Gobel.
Celia Dunkelman adalah musisi kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara yang kini bermukim di Jepang. Pada usia 15 tahun, Celia meninggalkan tanah kelahirannya, dan kini telah 21 tahun menetap di Jepang, menjadi musisi andal.
Celia yang bermain musik sejak usia sembilan tahun ini, pada tahun 1978 menjuarai Indonesia Electone Festival. Atas prestasinya tersebut, setahun kemudian Celia diajak pindah ke Jepang oleh Konsulat Jepang di Pematang Siantar. Setibanya di Jepang, ia mendapatkan kesempatan belajar di Shobi Conservatoire yang kemudian dilanjutkannya di Tokyo Conservatoire Shobi.
Di tempat pendidikan terakhir inilah, Celia beroleh kesempatan mendalami bidang yang ia minati, yakni musik tradisional Jepang. Celia mulai banyak bergaul dengan musisi tradisional Jepang, dan pada tahun 1995 ia tampil bersama Satomi Fukami, salah satu artis o-koto Jepang terkenal. O-koto adalah alat musik tradisional Jepang sejenis kecapi.
Kolaborasi dua artis berlainan bangsa ini ternyata populer, yang bermuara pada begitu seringnya mereka tampil di pergelaran-pergelaran. Dari kerja sama itulah akhirnya keduanya melahirkan album pertama, Purity yang beredar di Jepang tahun 1998.
Album Purity ini sarat dengan kerinduan Celia akan kampung halamannya. Ia padukan bunyi-bunyian khas tradisional Indonesia dengan instrumen musik tradisional Jepang. Di dalam album yang memuat komposisi semacam The Wind, Hakeev Betochenu (The Pain within Us), The Prayer, Tevorchu (Be Blessed), Good Night Good Night, ada dua komposisi yang merepresentasikan kerinduannya pada Indonesia: Nada Hati (Sound of the Heart) dan Tempatku Berlindung (My Home).
***
SEBAGIAN komposisi dalam Purity ditampilkan Celia pada konser pertamanya di Indonesia Jumat malam lalu. Mengenakan sackdress warna ungu berlengan setali, Celia yang bersuamikan profesor bidang komputer berkebangsaan Amerika ini membuka penampilannya dengan nomor Tevorchu (Be Blessed). Electone EL-900 yang menyertai penampilannya dihentaknya hingga menimbulkan suara gemuruh.
Lewat komposisi ini ia berharap agar warga masyarakat seluruh dunia yang hidup dalam bermacam situasi: kedamaian, peperangan, tetap terberkati oleh Sang Pencipta, si pemilik kehidupan. "Itulah mengapa di awal komposisi ini, bunyi electone terdengar bergemuruh. Saya maksudkan supaya berkat itu menyertai kita semua," kata Celia.
Komposisi kedua, Sei Shou Ten terbagi atas tiga movement: Purity-Honesty-Hope. Purity sebagai ungkapan terima kasih Celia pada kedua orangtuanya. Honesty adalah ucapan terima kasihnya kepada Konsul Jenderal Jepang yang membawanya ke Jepang. Sementara Hope adalah sebuah harapan yang ia persembahkan untuk ayahnya yang biasa Celia panggil, Amak.
Mulai nomor kedua ini, Celia tak tampil sendiri. Celia yang memainkan dua instrumen, electone dan o-koto, menjalin kolaborasi dengan para penabuh gamelan Bali yang dipimpin oleh Wayan Sudana. Tak hanya itu, Celia juga diiringi Yoshihiko Iwai pada drums dan perkusi, Akinori Inaba pada saxophone dan hichiriki, serta putrinya Shayna Esther Dunkelman pada gamelan saron.
Musik dinamik yang ditampilkan Celia, mendapat sambutan hangat penonton ketika penabuh gamelan Bali mewarnai komposisinya. Belum lagi para penabuh tersebut sesekali menampilkan cuplikan tari Kecak...Cak-Cak-Cak...menambah semarak komposisi.
Kejutan disajikan Celia dengan membawakan komposisi Bengawan Solo karya Gesang Martohartono. Lagu Bengawan Solo ini selalu mengingatkan Celia pada Indonesia.
"Saya tetap cinta Indonesia. Saya suka makanan Indonesia. Saya suka makan petai, sate padang, durian. Lagu Bengawan Solo selalu ada di hati saya," ucap Celia yang pernah bertemu dengan Gesang di KBRI Tokyo sekitar tahun 1980.
Pada nomor ini, suara electone yang dibawakannya melantunkan bunyi yang mengimitasi sebuah suara instrumen, mirip angklung. Akinori Inaba dengan saxophonenya memperindah komposisi Bengawan Solo yang tak lagi keroncong seperti aslinya, melainkan menjadi jazz fusion di tangan Celia. Nomor ini pun diperkaya dengan bebunyian gamelan Bali.
Dari Indonesia, penonton diajak Celia terbang ke Jepang lewat satu komposisi Shouzui karya Hidemi Saito. Shouzui adalah perwujudan cinta Celia pada Jepang, negeri keduanya. Celia mengaransir komposisi ini sedemikian rupa. Dentaman drumnya begitu dinamik, musik tiupnya juga terdengar energik.
Sajian terakhirnya adalah bongkahan rindu pada tanah airnya Indonesia melalui nomor Tempatku Berlindung (My Home). Di nomor ini, kembali o-koto dan gamelan Bali disuguhkan dalam irama rancak. Satu nomor manis yang menutup keseluruhan penampilannya.
Kolaborasi yang dilakukannya bersama para anak buah Wayan Sudana tersebut dilakukan dengan inprovisasi yang tinggi. Tak ada latihan sebelumnya. "Semuanya berjalan begitu saja," ujar Celia. Semoga kerinduan Celia pada kampung halamannya tuntas sudah. (lok)
Berita hiburan lainnya :
|