Ali Sadikin merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta yang boleh dibilang paling membekas di benak warga Jakarta, apalagi yang telah berumur. Warga kebanyakan selalu menyebut periode ”zaman Ali Sadikin” untuk mengenang Jakarta tempo dulu yang mereka rasakan lebih manusiawi.
Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama 10 tahun atau dua periode, dari tahun 1966-1977. Pada masanya, dia bisa mengangkat Jakarta laksana gadis yang sedang berdandan. Jakarta yang dulunya semrawut menjadi kota yang tertata. Di kota ini juga tumbuh puluhan bangunan bertingkat, permukiman mewah, dan jalan-jalan dengan ratusan ribu kendaraan. Jakarta berkembang menjadi kota metropolitan.
Atas perannya itu pula Bang Ali, demikian dia dipanggil, menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana.
Pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927, ini dikenal sebagai orang yang berpembawaan keras dan tegas. Dia mempertahankan prinsip: sebagai gubernur dirinya harus melindungi dan menyejahterakan rakyat.
Bang Ali juga termasuk penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Pusat Perfilman Usmar Ismail, Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, dan Museum Wayang.
Tak hanya itu, Bang Ali juga berupaya mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.
Jika memiliki keyakinan, Ali Sadikin sangat kuat memegang keyakinannya itu. Bahkan, sekalipun hal itu harus menghadapi persoalan yang pelik dan memancing kontroversi. Salah satu kebijakannya yang kontroversial adalah gebrakan melegalisasi (baca: mengatur) perjudian dan prostitusi di Jakarta. Dari kenekatannya itu, pundi-pundi anggaran daerah penuh dan mampu memuluskan jalan-jalan di Jakarta. Ketika itu, dari perjudian saja, dalam setahun bisa diraup dana Rp 40 miliar.
Wujud legalisasi prostitusi di zaman Ali Sadikin adalah lokalisasi kawasan Kramat Tunggak. Lokalisasi itu justru membuatpara pekerja seks komersial relatif lebih terkontrol dan terawasi.
Proyek MHT
Di tangan Bang Ali, Jakarta memiliki Rencana Induk Kota Jakarta.
Program yang sangat penting adalah Jakarta menjadi hijau di tangan Bang Ali. Dia menggagas perbaikan kampung dengan mengacu pada program Belanda tentang kampoengverbetering di Batavia tahun 1934.
Program ini selanjutnya dinamakan proyek Mohammad Husni Thamrin (dikenal dengan singkatan MHT). Di sini dia berhasil menemukan kembali vitalitas peradaban Jakarta.
Bank Dunia mencatat: ”Kesehatan masyarakat meningkat, tingkat pendidikan yang dicerminkan dari school enrollment naik pula, juga mobilitas penduduk yang selanjutnya berpengaruh pada peningkatan kegiatan perekonomian.
Dengan telah diperbaiki kampung-kampung itu, ternyata penduduk didorong untuk memperbaiki rumahnya dan ini artinya program tersebut mempunyai multiplier effect terhadap perbaikan lingkungan secara umum. Dalam perhitungan cost and benefit yang dilakukan konsultan Bank Dunia, rasionya jauh melebihi satu.”
Tokoh cerdas
Ahli tata kota yang juga pengamat perkotaan, Nirwono Joga dan Yayat Supriatna, mengenang Bang Ali sebagai tokoh yang cerdas, kreatif, dan menempatkan dirinya sebagai rakyat Jakarta. ”Warga Jakarta sangat menghormati beliau karena kebijakannya banyak berpihak kepada rakyat,” kata Nirwono Joga.
Bagi Yayat Supriatna, Bang Ali adalah tokoh yang sangat cerdas, mampu merencanakan Kota Jakarta pada masa depan. Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) Jakarta bahkan sudah dibuat oleh almarhum untuk periode 1965-1985. ”Pemikirannya jauh ke depan, jauh melampaui orang lain di zamannya,” kata Yayat.
Nirwono mengusulkan, sebagai penghargaan atas jasa Bang Ali yang selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat, terutama kelas bawah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mewujudkan pemikiran Bang Ali. ”Contohnya program pembangunan kereta bawah tanah sebab dari dulu beliau sudah meramal Jakarta akan macet total dan subway jadi salah satu solusinya,” katanya.
Ia juga mendesak agar konsep pembangunan Jakarta dengan daerah penyangga wilayah di Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi-Cianjur segera direalisasikan.
Pengembangan Jabodetabekjur, kini dikenal dengan istilah megapolitan, bertujuan mengendalikan urbanisasi ke Ibu Kota dengan cara pemerataan pembangunan di wilayah seputar Jakarta. ”Kalau Jakarta banjir, Bang Ali sangat marah sehingga ia membuat konsep Jabodetabekjur untuk mencegah kejadianseperti banjir,” lanjut Nirwono.
Yayat menambahkan, rencana pembangunan Bang Ali sungguh-sungguh demi kesejahteraan warga kota, baik dari sisi fisik maupun jiwanya. Ia mencontohkan banyaknya pembangunan gedung kesenian, mulai dari gelanggang remaja di setiap wilayah kota, gelanggang olahraga, gedung kesenian, taman, rumah susun, dan perbaikan kampung kumuh lewat proyek MHT. Pembuatan ruang terbuka berupa penanaman pohon di tepi jalan sampai tempat rekreasi Bina Ria yang kini dikenal sebagai Taman Impian Jaya Ancol.
Uang dari pajak lokalisasi dan perjudian kembali ke rakyat dalam bentuk proyek MHT. Praktis tak ada bantuan atau pinjaman dari pihak lain untuk proyek itu. Andai Pemprov DKI Jakarta menjalankan RTRK yang sudah dibuat Bang Ali, kata Nirwono Joga, pembangunan kota Jakarta di segala bidang akan lebih tertata di banding sekarang. (SF/PIN/TRI)