Masyarakat yang Memanfaatkan Hasil Hutan Meningkat
Sabtu, 17 Mei 2008 | 17:30 WIB

BLORA, SABTU- Dari waktu ke waktu, perekonomian masyarakat desa hutan semakin meningkat. Hal itu ditunjukkan dengan peningkatan jumlah dan pendapatan warga desa hutan yang memanfaatkan hasil-hasil hutan.

Kepala Subseksi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat KPH Randublatung Tuti Miyarti, Sabtu (17/5), mengatakan jumlah warga yang memungut rencek (dahan jati untuk kayu bakar), daun jati, rumput dan menanam ubi-ubian, meningkat. Misalnya saja, pada 2006 warga yang mengambil rencek berjumlah 660 orang, sedang pada 2007 menjadi 13.060 orang.

Begitu juga, jumlah warga yang memanfaatkan daun jati dan hijauan makanan ternak atau rumput. Pada 2006, jumlah warga yang memanfaatkan hasil hutan itu 649 orang, sedang pada 2007 menjadi 19.772 orang. Menurut dia, h al itu meningkatkan pendapatan warga. Misalnya saja, total pendapatan 660 warga dari pemanfaatan rencek selama 2006 sebesar Rp 176 juta, sedang selama 2007, total pendapatan 13.060 warga dari pemanfaatan rencek Rp 3,2 miliar. "Pendapatan itu belum termasuk sejumlah warga yang mengembangkan usaha kecil menengah," kata dia.

Menurut Tuti, jumlah warga yang bekerja di sekitar hutan meningkat karena adanya kemudahan mencari uang di sekitar hutan. Setiap hari, warga desa hutan memperoleh penghasilan antara Rp 20.000 Rp 50.000 per hari. Penghasilan mereka akan semakin bertambah ketika musim tebangan. Mereka dapat bekerja sebagai penebang, pengangkut kayu, dan pengumpul rencek.

Secara terpisah, Ketua Kembara Tani Foundation Dudi Krisnadi mengatakan pada 2003, jumlah penduduk desa hutan di Indonesia mencapai 33,5 juta jiwa, sedang pada 2004 menjadi 48,8 juta jiwa. Salah satu sebab pertambahan itu adalah kegagalan warga desa yang mencari pekerjaan di kota-kota besar, sehingga mereka memilih pulang ke desa masing-masing.

Anehnya, kata dia, pertambahan penduduk desa hutan itu tidak menambah tingkat kemiskinan. Hal itu karena tersedianya lapangan perkejaan di sekitar hutan, terutama hutan jati.Kembara Tani mencatat pada 2003, jumlah penduduk miskin di desa hutan 15,08 juta jiwa. Pada 2004 jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 10,2 juta jiwa.  

"Jika tren pergerakan warga desa kembali ke desa itu terus berlanjut, Perum Perhutani tid ak a kan mampu mengatasi persoalan itu sendiri. Pemerintah daerah perlu terlibat," kata Dudi. (HEN)       

 

 

 

 


Alb. Hendriyo Widi Ismanto
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
paul sagala @ Minggu, 18 Mei 2008 | 12:51 WIB
setelah saya membaca berita ini, saya pikir ini merupakan berita yang bagus. Mereka melakukan usaha di sumber yang bisa didaur ulang. Betapa bagusnya kalau mereka menebang pepohonan dan mananam yang pohon yang lainnya. Tentunya ini akan menguntungkan bagi semua orang. Pemerintah dan para usahawan harus berkerjasama. Tolong Pemerintah bisa mengadakan peraturan dan peraturan itu bisa terjamin dipatuhi. Apabila pohon tidak ditanam kembali itu bisa membawa efek tidak baik. Tolong diperhatikan. thank
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile16
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort