Robot Gedek II Beraksi
Mutilasi Bocah 10 Tahun, Kepala Belum Ditemukan
Kepala boneka yang terlepas dari badannya.
Jumat, 16 Mei 2008 | 10:53 WIB

JAKARTA, JUMAT - Bocah laki-laki korban pembunuhan, mirip korban pembunuhan Robot Gedek, ditemukan di Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (15/5) pagi. Korban Robot Gedek II ini dimutilasi menjadi lima bagian, namun kepalanya tidak ada.

Korban mutilasi yang ditemukan di Terminal Bus Pulogadung ini memiliki ciri-ciri luka parut di tungkai dan bekas lecet di lutut kanan. Ciri-ciri lainnya berkulit sawo matang, tinggi sekitar 92 cm, dan golongan darah A. Anggota tubuh yang ditemukan adalah sepasang kaki sebatas lutut, bagian lutut hingga pinggang, dan bagian pinggang sampai leher.

Korban Robot Gedek II ini diperkirakan berusia 10 tahun. Potongan-potongan tubuhnya ditemukan sekitar pukul 06.30 dan kini mayatnya ada di Kamar Jenazah RSCM. "Kemungkinan korban meninggal enam jam sebelumnya," jelas Dr Herkutanto SpF, dokter forensik RSCM yang memeriksa potongan-potongan tubuh itu, Kamis siang.

"Jari tangannya masih lemas, belum kaku. Gumpalan darahnya juga masih segar, diperkirakan jarak antara waktu kematian korban dan penemuan korban tidak jauh," ucap Kepala Polsektro Pulogadung Kompol Suharyanto. Hingga semalam, kepala korban belum ditemukan.

Potongan tubuh yang ditemukan terdiri atas sepasang telapak kaki sampai lutut; bagian lutut, paha, sampai pinggang; dan bagian pinggang perut, kedua tangan, sampai leher. Bagian perut sobek hingga ususnya terburai. Bocah tersebut diduga menjadi korban kekerasan seksual karena kemaluannya mengalami luka.

Korban Robot Gedek II ini disimpan di dalam kardus yang diletakkan di Terminal Bus Pulogadung. Kardus itu persisnya diletakkan di antara Bus Kowanbisata 512 (Ciputat-Pulogadung) dan Mayasari Bakti P-AC 51 (Pulogadung-Kalideres) yang sedang ngetem.

Ditendang

Sartiyah (43), kernet Bus P-AC 51, mengatakan, ia dan suaminya, Junaedi (sopir bus tersebut), keluar dari pool Cijantung sekitar pukul 04.00 dan sampai di Pulogadung setengah jam kemudian. Lantara jam berangkat bus masih lama, Junaedi memarkir bus di tempat parkir. Dia dan sang istri bahkan sempat meneruskan tidur di bus.

"Jam lima pagi saya bangun karena mau mandi. Begitu turun saya melihat ada kardus di dekat ban belakang bus Kowanbisata di sebelah bus kami," ucap Sartiyah di Mapolsektro Pulogadung. Ibu sembilan anak yang tinggal di Jalan Lontar III, Koja, Jakarta Utara, ini melapor kepada petugas dishub. "Saya melihat kardus itu ditendang orang. Makanya saya lapor ke petugas," ujarnya.

Petugas terminal curiga karena kardus itu menebarkan bau amis. Petugas terminal lantas melapor ke polisi di Pospol Terminal Bus Pulogadung. Polisi membuka kardus itu dan gegerlah Terminal Bus Pulogadung dengan penemuan potongan-potongan tubuh bocah laki-laki.

"Biasanya, kalau ada kardus tak bertuan isinya rempeyek atau rengginang, tapi ini isinya mayat dipotong-potong. Aduh serem, Mas," ucap Sartiyah.

Buyung (49), tukang sapu, menuturkan, pukul 04.30 dia mengangkat sampah di tempat parkir bus Mayasari Bakti P-AC 51. "Tapi saat itu saya nggak melihat ada kardus, padahal saya sapu sampai ke bawah-bawah bus," ucapnya.

Suharyanto meminta masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya, yakni bocah berusia sekitar 10 tahun, menghubungi Polsektro Pulogadung di nomor telepon 021-4892524 atau juga bisa mendatangi Pos Polisi Terminal Bus Pulogadung. "Yang pertama harus kami tahu adalah identitas korban agar kami bisa mengungkap kasus ini," katanya.

Polisi menduga korban Robot Gedek II tersebut adalah anak jalanan. Perkiraan itu didasarkan pada kulit korban yang agak keling dan tidak bersih. Polisi sudah mendatangi beberapa kantong kelompok anak jalanan di Pulogadung dan Kelapa Gading. Sejauh ini hasilnya nihil.

Beberapa anak jalanan yang ditemua Warta Kota di Terminal Bus Pulogadung dan di Jalan Pemuda, Jakarta Timur, mengaku tak ada temannya yang hilang.

Prihatin

Kepala Polri Jenderal Sutanto prihatin dengan munculnya kasus mutilasi ini. Sutanto mengatakan dirinya sudah menginstruksikan Kepala Polda Metro Jaya untuk mengamankan wilayahnya agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Selain itu, Sutanto juga meminta jajaran Polda Metro Jaya bekerja keras mengungkap kasus tersebut. "Memang mengungkap kasus mutilasi tidak mudah, harus ada saksi atau alat bukti untuk bisa mengungkapnya," ujar Sutanto di Hotel Kartika Chandra, kemarin.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira, yang saat itu menjabat Kepala Polres Jakarta Pusat dan memimpin penangkapan Robot Gedek, mengatakan, ada perbedaan antara kasus Robot Gedek yang ditanganinya dulu dan kasus mutilasi ini. Menurut Abubakar, Robot Gedek membunuh setelah menyodomi korbannya. Ia memiliki kelainan jiwa dan merasa senang jika melihat darah korban.

"Oleh karena itu, ia (Robot Gedek) hanya menyayat kulit perut korbannya dengan silet atau memotong salah satu jari korban. Setelah melihat darah, ia puas, lalu korbannya dibunuh dengan dicekik," kata Abubakar, semalam.

Dokter forensik RSCM Dr Herkutanto menjelaskan, korban Robot Gedek II tersebut diduga dibunuh dengan senjata tajam berukuran besar, seperti golok. "Penyebab kematian korban diduga karena digorok," katanya. Dia menduga, setelah korban tewas baru dilakukan pemotongan tubuh. Bocah korban mutilasi ini juga merupakan korban kekerasan seksual. Pasalnya, anus korban rusak. "Anus korban berbetuk corong. Ini mirip dengan tanda-tanda sodomi," katanya.

Kemarin siang, Acep (37), warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, datang ke Kamar Jenazah RSCM untuk mengecek korban mutilasi tersebut. Dia khawatir korban Robot Gedek II itu adalah putranya, Reza Ceptiawan (10), yang sudah sepekan tak pulang.

"Saya ke sini setelah mendengar berita di radio dan diberi tahu tetangga bahwa ada mayat terpotong-potong yang ciri-cirinya mirip dengan Reza yang berkulit sawo matang, kaki kanan luka lecet, rambut hitam tipis, dan ada ciri khusus, yaitu alat kelaminnya ada luka bekas dikhitan," kata Acep. Setelah melihat korban mutilasi, Acep yakin korban Robot Gedek II itu bukan anaknya. (Warta Kota/Ded, Wid, Get, Sab)



Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
A A A
Ada 10 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
iyan @ Senin, 26 Mei 2008 | 09:03 WIB
ya Allah hanya Engkau yang mengetahui siapa pelaku sekejam itu, untuk itu melalui tanganMU Ya Allah Berikan balasan hukuman atas apa yang telah dilakukan oleh penjahat kejam dan sadis itu.
Duda @ Selasa, 20 Mei 2008 | 14:34 WIB
koq nggak ada CCTV (camera) di Terminal sih? khan bisa dilacak siapa yg bawa kardus yg mirip/sama dari jam sekian sampe jam sekian. Di negara2 lain, semua tempat2 umum pasti udah dipasang kamera pemantau.
walladun sholih @ Senin, 19 Mei 2008 | 10:07 WIB
ya... allah hanya kepada engkau aku berlindung dari kejahatan seperti itu......... smoga pelakunya cepat tertangkap, dan dihukum mati agar tidak terjadi lagi fitnah seperti ini. lindungi anak-anak yang yang tak berdosa..........
Lombardo @ Minggu, 18 Mei 2008 | 23:29 WIB
Sadiss !! Kejam !! pelakunya harus ditangkap
Rasyid @ Jumat, 16 Mei 2008 | 13:16 WIB
apakah memang sekejam itu umat manusia, lebih kejam dari binatang, mas'allah ......
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile58
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort