Harga BBM = Harga Politik
Aparat kepolisian menggunakan tameng untuk menahan lemparan batu dalam peristiwa bentrok dengan para mahasiswa yang berunjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), Sulawesi Selatan, Kamis (15/5). Sejumlah mahasiswa ditangkap polisi. Tribun Timur/Abbas Sandji (ABS) 15-05-2008
Jumat, 16 Mei 2008 | 05:40 WIB

TANPA bermaksud mendramatisasi masalah yang melanda masyarakat sekarang, dalam analisis ekonomi kali ini sengaja penulis sertakan kutipan dari pedagang bahan bangunan, keluhan pemborong bangunan, dan kesulitan yang dialami para ibu-ibu rumah tangga.

"Mulai tanggal 15 Mei 2008, harga kaca semua jenis naik 20 persen. Harga besi dan alumunium juga naik sebesar itu. Kalau bapak mau membeli material bangunan sebaiknya dari sekarang karena harga-harga naiknya cepat," kata Awi, pedagang bahan bangunan di Ruko Boulevard BSD City, awal pekan ini.

Ditanya alasan kenaikan harga tersebut, Awi menjelaskan walaupun harga BBM belum naik namun di sejumlah daerah BBM sudah mulai langka. Ini yang menyebabkan biaya distribusi hampir semua barang-barang naik mendahului kenaikan harga BBM.

Pemborong bangunan juga sekarang sedang pusing dengan kenaikan harga-harga material bangunan yang meroket. "Bulan Januari 2008, harga besi masih Rp 4.000 per kilogram, dua minggu lalu sudah melesat jadi Rp 13.000 per kg. Menjelang kenaikan BBM kali ini, naik lagi. Pusing saya karena biaya pembangunan sejumlah rumah dibuat sebelum pemerintah merencanakan menaikkan BBM," ujar Wandi, seorang pemborong bangunan yang banyak mengerjakan proyek pembangunan dan renovasi rumah-rumah pribadi di sekitar Jabodetabek.

Kenaikan harga juga berlaku untuk berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Para ibu-ibu rumah tangga kini harus pintar-pintar untuk membelanjakan budget bulanannya dengan melakukan penghematan di semua sisi pengeluaran secara ketat.

Jika dulu mereka pengagum berat sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kini simpati kepada Pak SBY mulai luntur setelah kenaikan harga-harga itu. Sementara itu sejak Senin (12/5) sampai sekarang gelombang aksi unjuk rasa yang dilakukan berbagai elemen masyarakat masih terus berlangsung di berbagai kota. Mereka memrotes rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Mereka juga protes dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Unjuk rasa tersebut momentumnya berbarengan dengan peringatan sepuluh tahun reformasi yang jatuh pada tanggal 21 Mei 2008, saat di mana Presiden Soeharto lengser dari tampuk kekuasaannya setelah 32 tahun berkuasa.

Sejatinya peran mahasiswa adalah melakukan gerakan moral untuk menekan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, mesti secara ekonomi termasuk rasional untuk segera diputuskan, namun secara sosial sangat merugikan masyarakat.

Imbauan pejabat Pemerintah agar masyarakat tidak perlu panik atau tidak perlu antre BBM di SPBU, sepertinya dianggap angin lalu oleh masyarakat. Seperti ditulis Harian Kompas edisi Senin (12/5), di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pedagang menyewa sejumlah warga yang mempunyai motor untuk antre BBM di SPBU agar bisa menjual lagi secara eceran dengan harga lebih tinggi.

Warga setempat sudah menggunakan akal canggih untuk antre BBM di SPBU. Makin lama Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM, kepanikan masyarakat akan semakin menjadi-jadi. Berbarengan dengan itu harga berbagai keperluan masyarakat sudah naik karena aksi spekulasi. Dalam kaitan itu, Pemerintah harus segera memutuskan soal BBM. Naik atau tidak. Ketegasan dan kecepatan memutuskan diperlukan, agar ketidakpastian tidak terlalu lama.

Gejolak sosial yang muncul dalam bentuk demo oleh mahasiswa, Ibu-ibu rumah tangga, pemblokadean SPBU dan jalan yang menjadi urat nadi ekonomi akan berdampak serius terhadap citra pemerintah. Yang sangat merisaukan jika gejolak itu diikuti dengan kemarahan massif masyarakat karena barang-barang menghilang dari pasar. Dan, kalaupun ada, harganya sudah naik ber-lipat-lipat.

Jika situasi ini berlarut, akan tercipta ruang publik untuk berlaku anarkis. Ini sangat mencemaskan. Pemerintah sebaiknya jangan ber-main-main dengan kesulitan yang kini semakin mendera masyarakat. Membiarkan berlarutnya keadaan dengan aneka reaksi yang muncul dari masyarakat dan mahasiswa, akan semakin mendorong terjadinya gejolak dan keresahan. Kondisi itu pada akhirnya akan dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk bermain dengan motif poltik maupun keuntungan ekonomi.

Pemerintah mestinya tidak membiarkan ketidakpastian berlangsung terlalu lama karena dampak dari situasi ini akan sangat mengganggu dunia usaha dan pasar. Bahkan, akan memunculkan image negatif terhadap kemampuan dalam mengelola pemerintahan.

Jika pemerintah sebelumnya belum siap dengan data terbaru masyarakat miskin penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengumumkan lebih dulu soal rencana kenaikan BBM. Namun, Presiden Yudhoyono sudah terlanjur berbicara kepada publik soal rencananya itu.

Sekarang tidak ada waktu lagi untuk memperlambat pengumuman kenaikan BBM. Kita juga berharap agar penyaluran BLT tidak menimbulkan keresahan dan kerusuhan di kalangan masyarakat hanya karena pemerintah belum siap dengan data terbaru jumlah keluarga miskin di Tanah Air. Sekarang yang harus dilakukan pemerintah adalah memperbarui data rumah tangga miskin yang dua tahun lalu berjumlah 19,1 juta jiwa.

Jumlah tersebut pasti bertambah dalam rentang waktu dua tahun karena itu peran pemerintah daerah sangat penting dalam membantu memperbarui jumlah rumah tangga miskin. Jangan sampai BLT berubah menjadi Bantuan Langsung Tawur hanya karena ada orang miskin baru yang tidak kebagian dana tunai sebesar Rp 100.000 yang akan diberikan pemerintah setiap bulan kepada keluarga miskin. Kenaikan harga BBM kali ini merupakan "harga politik" yang harus dibayar pemerintah kali ini terutama taruhan politik bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tjahja Gunawan Diredja - tjahjag@yahoo.com



Nilai 4 A A A
Ada 21 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
jaini @ Selasa, 24 Juni 2008 | 09:32 WIB
habis mau gimana lagi ? karena menurut Pemerintah kita sudah ngak sanggup lagi meng handle subsidi nya Sebaik nya pintar 2 ber hemat lah , semoga jgn terlalu pusing pemerintah mikirin subsidi
stya_one @ Senin, 16 Juni 2008 | 11:08 WIB
jadi ini to yang namanya jadi president? punya rencana dan memiliki kekuatan memainkan harga! SBY-JK kok kamu bekerja untuk itung-itungan menaikkan BBM? masih banyak PR yang menuntut deadline demi terciptanya Indonesia setara dengan negara tetangga, kita belum punya apa-apa untuk menaikkan perekonomian, dan kamulah yang memegang kuasa tersebut contohnya bisa hubungi team_kami... lah kalo cuma naikkin BBM kerjaan anak kecil yang kena angin naiknya minyak dunia goyang! wake up the president! perekonomian kita tidur di Jawa tidak ada perubahan yang kompetitif
vina @ Rabu, 11 Juni 2008 | 21:32 WIB
kalo mngenai naiknya harga BBM, ya tu mank pantas la yaa.. soalna, mank dri sono nya da nae.. kalo trus2an disubsidi, pemrintah bner2 bangkrut tar, utang qta ga bakal lunas2 kalo trus disubsidi, pemrintah bakal tekor!! makanya para pendemo pake otak dunk, jgan asal2 cari t=ribut ja, mank dibayar berapa sich?? bego bgt mo dsuruh2, abis2an tenaga!! tpi pemrintah tu shrusnya cari solusi!! bikin refinary minyak kek! minyak mentah punya bis tu dikasih keorang laen(kirim ksingapura) buat diolah lalu qta beli lagi. bego banget!!! OON!!! di situla uang negara abis mulu!! kalo ga bisa ngatur, ya udah. serahkan la pada orang yag bisa!! bersikaplah TEGAS!!!
ucox @ Senin, 9 Juni 2008 | 17:46 WIB
BBM selayaknya naik, ini memang diperuntukkan utk kesejahteraan rakyat. sungguh kebijakan pemimpin yang bijaksana. selamat. utk para pendemo seharusnya lebih intelektual lagi, pergunakan otak kalian dgn baik.
cemen @ Senin, 26 Mei 2008 | 13:03 WIB
aku malu jadi rakyat indonesia yg dipimpin SBY-JK
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Advertorial
Kompas Mobile19
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort