

AKSI mogok sejumlah angkutan kota berpelat kuning, Kamis (15/5), tentu saja merepotkan penumpang yang biasa menggunakan moda angkutan tersebut. Tapi, kerepotan bukan saja milik penumpang angkot pelat kuning. Penumpang yang biasa naik angkot pelat hitam juga mengalami hal yang sama.
Apa kata mereka tentang aksi para sopir angkot hari ini? "Ah, kalau saya nggak peduli mau kuning, mau hitam yang penting bisa nganterin kemana tujuan kita. Sama-sama cari duit kok," kata Yani, warga Tangerang, yang biasa menggunakan angkot jurusan Cikokol-Kalideres. Angkot yang biasa digunakan Yani memang tak ikut aksi, tapi terkena imbasnya.
Saat ratusan sopir angkot pelat hitam berkumpul di pinggir Jalan Raya Daan Mogot, Kalideres, praktis seluruh angkot kecil diminta berbalik arah ke Tangerang. Pihak kepolisian yang berjaga-jaga khawatir angkot-angkot itu menjadi korban amukan.
Akhirnya, Yani dan ratusan penumpang lain terpaksa berjalan kaki menuju Terminal Kalideres yang jaraknya masih satu kilometer lagi. Sementara itu, Dadi Sulistyo yang biasa menggunakan jasa angkot pelat hitam mengutarakan alasannya mengapa ia lebih nyaman menggunakan angkot tersebut.
"Kalo omprengan (angkot pelat hitam) itu lebih murah. Dari Tangerang sampai Kota cuma Rp 5.000. Kalau angkot kan sampe Kalideres aja udah Rp 4.000, belum nyambung lagi. Belum banyak berhentinya," ungkap karyawan swasta ini.
Bagi Yani, Dadi, atau ratusan penumpang lainnya mungkin tak ada masalah menggunakan pelat kuning atau hitam. Tapi, bagi sopir angkot pelat kuning, Udin Afiudin, keberadaan angkot pelat hitam telah merampas sebagian rezekinya. Bapak enam anak ini bertutur, dalam sehari pendapatannya hanya berkisar Rp 70.000 hingga Rp 80.000. Padahal, Udin dan sopir-sopir lainnya harus menyetorkan sedikitnya Rp 100.000 per hari. Kondisi ini membuat mereka harus nombok kekurangannya.
"Kalo lagi apesnya begitu (nombok). Tapi seringnya apes. Kalo lebihnya ni ya, paling banyak dibawa ke rumah Rp 15.000 doang, itu juga paling pol," katanya.Oleh karena itu, para sopir ini meminta pihak yang berwenang menertibkan operasional angkot-yang mereka sebut 'maling' itu-yang jumlah armadanya semakin banyak saja. "Kami juga ngertilah, pelan-pelan aja dikuranginnya. Misalnya ada 500 jadi 400 (unit mobil). Jangan semuanya disuruh berhenti," katanya.
Sementara itu, Nur Ali, sopir angkot pelat hitam, mengatakan, mencari rezeki yang halal menjadi hak siapa saja. Keinginan untuk membatasi operasional kerja ia dan rekan-rekannya dianggap Ali tak adil. Apalagi, ia mendengar dari bosnya bahwa izin trayek angkot pelat hitam sudah diurus bertahun-tahun lamanya, tapi tak kunjung keluar. "Kita juga nggak senang kalau dianggap liar. Kita punya perkumpulan. Cuma izin trayeknya saja yang nggak dapet-dapet. Cari makan kan hak orang hidup. Sama-samalah, besar kecil rezeki udah ada yang atur," katanya. Kalau sudah begini, siapa yang bisa menyelesaikan?
LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |