Mau Kuning, Mau Hitam, yang Penting Jalan!
Para penumpang omprengan (angkot berplat hitam) terpaksa turun, saat mobil yang mereka tumpangi disweeping oleh sopir angkot plat kuning di kawasan Jalan Raya Daan Mogot, Jakarta Barat, Kamis (15/5)
Kamis, 15 Mei 2008 | 15:48 WIB

AKSI mogok sejumlah angkutan kota berpelat kuning, Kamis (15/5), tentu saja merepotkan penumpang yang biasa menggunakan moda angkutan tersebut. Tapi, kerepotan bukan saja milik penumpang angkot pelat kuning. Penumpang yang biasa naik angkot pelat hitam juga mengalami hal yang sama.

Apa kata mereka tentang aksi para sopir angkot hari ini? "Ah, kalau saya nggak peduli mau kuning, mau hitam yang penting bisa nganterin kemana tujuan kita. Sama-sama cari duit kok," kata Yani, warga Tangerang, yang biasa menggunakan angkot jurusan Cikokol-Kalideres. Angkot yang biasa digunakan Yani memang tak ikut aksi, tapi terkena imbasnya.

Saat ratusan sopir angkot pelat hitam berkumpul di pinggir Jalan Raya Daan Mogot, Kalideres, praktis seluruh angkot kecil diminta berbalik arah ke Tangerang. Pihak kepolisian yang berjaga-jaga khawatir angkot-angkot itu menjadi korban amukan.

Akhirnya, Yani dan ratusan penumpang lain terpaksa berjalan kaki menuju Terminal Kalideres yang jaraknya masih satu kilometer lagi. Sementara itu, Dadi Sulistyo yang biasa menggunakan jasa angkot pelat hitam mengutarakan alasannya mengapa ia lebih nyaman menggunakan angkot tersebut.

"Kalo omprengan (angkot pelat hitam) itu lebih murah. Dari Tangerang sampai Kota cuma Rp 5.000. Kalau angkot kan sampe Kalideres aja udah Rp 4.000, belum nyambung lagi. Belum banyak berhentinya," ungkap karyawan swasta ini.

Bagi Yani, Dadi, atau ratusan penumpang lainnya mungkin tak ada masalah menggunakan pelat kuning atau hitam. Tapi, bagi sopir angkot pelat kuning, Udin Afiudin, keberadaan angkot pelat hitam telah merampas sebagian rezekinya. Bapak enam anak ini bertutur, dalam sehari pendapatannya hanya berkisar Rp 70.000 hingga Rp 80.000. Padahal, Udin dan sopir-sopir lainnya harus menyetorkan sedikitnya Rp 100.000 per hari. Kondisi ini membuat mereka harus nombok kekurangannya.

"Kalo lagi apesnya begitu (nombok). Tapi seringnya apes. Kalo lebihnya ni ya, paling banyak dibawa ke rumah Rp 15.000 doang, itu juga paling pol," katanya.Oleh karena itu, para sopir ini meminta pihak yang berwenang menertibkan operasional angkot-yang mereka sebut 'maling' itu-yang jumlah armadanya semakin banyak saja. "Kami juga ngertilah, pelan-pelan aja dikuranginnya. Misalnya ada 500 jadi 400 (unit mobil). Jangan semuanya disuruh berhenti," katanya.

Sementara itu, Nur Ali, sopir angkot pelat hitam, mengatakan, mencari rezeki yang halal menjadi hak siapa saja. Keinginan untuk membatasi operasional kerja ia dan rekan-rekannya dianggap Ali tak adil. Apalagi, ia mendengar dari bosnya bahwa izin trayek angkot pelat hitam sudah diurus bertahun-tahun lamanya, tapi tak kunjung keluar. "Kita juga nggak senang kalau dianggap liar. Kita punya perkumpulan. Cuma izin trayeknya saja yang nggak dapet-dapet. Cari makan kan hak orang hidup. Sama-samalah, besar kecil rezeki udah ada yang atur," katanya. Kalau sudah begini, siapa yang bisa menyelesaikan?


Inggried Dwiwedhaswary
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
A A A
Ada 12 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
duit @ Rabu, 28 Mei 2008 | 09:23 WIB
Bisa duit duit.....
terang @ Senin, 26 Mei 2008 | 09:37 WIB
kalo plat hitam bisa beroprasi berarti kesalahan si plat kuning, ga bisa ngangkut si penumpang.. . namanya juga kebutuhan, sebagai pejalan kaki
Adit @ Jumat, 23 Mei 2008 | 09:54 WIB
Klu menurut peraturan, mmg seharusnya angkutan penumpang dan barang itu plat kuning. kalau plat hitam itukan untuk kendaraan pribadi. Itu dulu ditertibkan. Setelah itu, nah.. ini yg lebih penting. menertibkan para supir plat kuning yg tidak pernah mematuhi rambu2 lalu lintas. kalau perlu sekali melanggar rambu SIM nya ditahan dan ga boleh narik. Terus untuk pelanggaran kedua 6 bulan, dst... dst... sehingga mereka bisa benar2 teratur... setuju...?????
john @ Selasa, 20 Mei 2008 | 08:52 WIB
"lebih baik mencegah daripada mengobati" ini pepatah yang tepat untuk pemerintah. Jangan sampai api sudah menjadi besar baru siap2 dipadamkan, kalo selagi kecil dipadamkankan kan lebih gampang,... tau kan maksudnya, biar ini menjadi pelajaran sekaligus masukan bagi pemerintah yang berwenang!!
radit @ Kamis, 15 Mei 2008 | 20:22 WIB
pak nur ali...... mang sih cari duit halal tu hak siapa saja...... tp klo bukan di jalurnya itu sudah tidak etis,,,,,,,,,,,, untuk pak polisi plat hitamtu setau saya bukan untuk angkutan umum..... tapi kenapa di perbolehkan ya...... saya jadi bingung sekarang........
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile12
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort