
PENELITIAN terbaru para ahli di Inggis mengindikasikan bahwa satu jenis obat saja tidak akan cukup untuk dapat mengatasi ancaman pandemi flu burung. Untuk itulah, perlu dipertimbangkan selalu menyediakan dua jenis obat antivirus yakni Tamiflu dan Relenza, serta mendesak untuk segera mengembangkan jenis antivirus baru lainnya.
Seperti yang dilaporkan BBC, Kamis (15/5) Medical Research Council yang berkedudukan di London mendesak negara-negara untuk menyediakan lebih dari satu jenis obat antivirus. Ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi bahaya yang ditimbulkan resistensi virus terhadap satu jenis obat. Hasil pengujian mereka terhadap strain H5N1 - jenis yang banyak menyebar di Asia Tenggara - menunjukan, virus ini sudah mulai kebal atau resisten terhadap obat anti virus Tamiflu.
Jumlah kasus flu burung di dunia saat ini telah mencapai 382 kasus terinfeksi. Sebanyak 241 orang di antaranya meninggal dan kebanyakan terjadi di Asia Tenggara. Namun begitu, hingga saat ini virus H5N1 tidak mudah untuk dapat menular antar manusia. Para ahli memperingatkan jika virus ini telah memiliki kemampuan untuk menyebar atau menular antar sesama manusia, maka hal ini akan menjadi ancaman serius bagi umat manusia.
Tamiflu yang diproduksi Roche serta Relenza buatan GlaxoSmithKline adalah obat antivirus yang tersedia saat ini. Obat ini bekerja dengan cara menangkal salah satu kunci penting dari virus flu yakni neuraminidase (N1). Protein inilah yang bertanggung jawab dalam melepas virus dari sel-sel tubuh manusia yang terinfeksi dan kemudian menyebabkan penularan.
Dengan menggunakan metode X-ray crystallography, ahli dari National Institute for Medical Research berhasil menentukan karakteristik mutasi struktur N1 yang telah diobservasi dalam kasus H5N1 pada manusia. Dari analisis tersebut, para ahli juga menemukan bahwa ketika mutasi terjadi, virus menjadi resisten terhadap Tamiflu, meskipun masih rentan terhadap Relenza.
Peneliti juga melakukan pengujian pada sampel virus flu seasonal. Haasilnya juga hampir sama bahwa mutasi menyebabkan virus menjadi resisten terhadap Tamiflu.
Pemimpin riset Dr, Steve Gamblin, menyatakan bahwa dengan hanya menyediakan satu jenis obat saja tidak akan cukup memberi perlindungan dalam mengatasi ancaman pandemi.
"Supaya tidak terkepung oleh virus, perlu untuk menyediakan dua jenis antivirus yang ada saat ini. Ada pula desakan yang sangat besar untuk mengembangkan obat-obatan ini lebih jauh dan kemungkinan pandemi di masa datang perlu diantisipasi dengan menggunakan tiga atau empat pendekatan bercabang,"ungkapnya.
Sementara itu ahli virologi dari Queen Mary College School of Medicine London, Professor John Oxford, menyatakan masalah ini tidak perlu dikhawatirkan karena strain H5N1 yang termutasi dan menjadi resisten terhadap obat ini tidak banyak menyebar dan bukan yang menjadi mayoritas.
"Saya kira ini tidak perlu membuat cemas. Mayoritas virus yang ada saat ini adalah yang rentan terhadap obat-obat anti-viral," tegasnya.
LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |