MATARAM, RABU - Harga vanili produksi Lombok, Nusa Tenggara Barat, mencapai Rp 8.000 dan Rp 55.000 per kilogram, masing-masing untuk vanili basah dan kering. Harga pasar lokal vanili itu terungkap dalam acara Pasar Lelang Forward Komoditi Agro hari Rabu (14/5) di Mataram.
Menurut Cece Suryadi, pedagang komoditi ekspor di Mataram, harga awal vanili untuk tahun ini lebih baik dibanding tahun 2006 dan 2007 yang anjlok sampai Rp 2.500-Rp 5.000 per kg. Berbeda dengan tahun 2005, yang harganya Rp 350.000 per kg (basah) dan Rp 4 juta per kg (kering).
Anjloknya harga vanili dua-tiga tahun lalu karena vanili asal Lombok dan daerah lain dicampur, sehingga tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan pengusaha. Bahkan selama tahun 2006-2007, vanili asal pulau itu tidak bisa terjual, terlebih lagi stok vanili dunia yang diproduksi tahun 2005 masih tersedia banyak di tangan pengguna.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Hadi Irfan Zahidi, mengakui, komoditi vanili tidak tercatat dalam perdagangan ekspor dan antarpulau tiga tahun terakhir. Itu diduga karena ulah spekulan yang mencampur produk vanili, juga umumnya pengusaha lokal NTB mengirim langsung ke mitra dagangnya di Bali-Jawa yang kemudian mengekspornya ke berbagai negara.
Sulit ditembus
Kini sejalan dengan menipisnya stok vanili dunia, pedagang penampung di daerah mulai memperoleh permintaan dari pengusaha dalam Negeri seperti Singaraja (Bali) dan Surabaya (Jatim). "Harga permulaan komoditi ekspor yang digunakan sebagai bahan kosmetika dan pengharum itu saat ini, sudah bagus, meski sulit menembus harga seperti tahun 2005, karena perilaku kurang baik sementara oknum pengusaha tadi," kata Maftuh, penampung produk vanili dan hasil bumi, asal Desa Batu Kuta, Kecamatan Narmada, Lombok Barat.
Padahal saat ini pertumbuhan vanili cukup baik, terlihat batangnya yang besar, daunnya besar dan tebal, tunasnya segar dan akar batangnya relatif banyak. “Memang ada serangan penyakit busuk batang, tapi jumlah serangannya kurang satu persen,” kata Maftuh yang tahun 2008 mampu menampung sekitar 50 ton vanili basah, produksi di Kecamatan Narmada.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Kehutanan NTB, Murtimin, belum bisa dikonfirmasi soal produksi vanili asal Lombok, karena sedang di luar daerah. Namun sejumlah pengusaha dan penampung memperkirakan produksi vanili di Lombok sekitar 300 ton vanili kering per tahun.