
JAKARTA, RABU - Pemerintah dinilai plin-plan dalam menjalankan kebijakan ekspor-impor pangan. Pada saat sebelumnya, pemerintah bisa mengatakan akan mengimpor beras, misalnya. Namun tidak lama kemudian, tiba-tiba mengumumkan akan mengekspor.
"Ini semata-mata karena harga komoditas beras di dunia sedang naik gila-gilaan. Lah, apa ini? Menurut saya, mentalnya itu maruk, serakah," ujar Guru Besar Fakultas Teknik Pertanian (FTP) Universitas Gajah Mada Mochammad Maksum dalam acara Seminar Nasional dan Pembukaan Munas Serikat Pelajar Indonesia (SPI) di Jakarta, Rabu (14/5).
Menurut Maksum, tahun lalu, ketika harga beras global menembus angka US$ 1000 per ton, pemerintah memang semangan akan mengekspor beras, setelah dua bulan sebelumnya pemerintah amat getol mengimpor beras dan menumpuk 1,2 juta ton beras impor. Maksum sangat menyayangkan kebijakan yang diambil pemerintah dengan membuka pintu impor dan menghapus bea masuk untuk komoditi pangan. Akhirnya sekarang, pemerintah dinilai terjebak dalam ketergantungan terhadap impor. (LIN)
LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |