PALU, SENIN - "Waspadai 'bola panas' kenaikan harga bahan bakar minyak," ujar pemerhati ekonomi Universitas Tadulako, Mohammad Nofal Launa.
"Masalahnya, inflasi akan meningkat tajam sehingga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat," kata staf pengajar fakultas ekonomi ini. Menurut dia, kenaikan harga BBM itu akan mendorong kenaikan harga barang di pasaran karena meningkatnya biaya produksi. Kemudian, jumlah penduduk miskin dipastikan akan meningkat tajam akibat terjadi penurunan daya beli yang luar biasa. Bila kekecewaan itu terakumulasi, dapat meningkatkan angka kriminalitas hingga mengancam kondisi stabilitas nasional karena maraknya aksi unjuk rasa.
"Saya belum bisa memperkirakan besaran inflasi yang terjadi nanti sebab sangat banyak faktor yang perlu dihitung. Yang pasti, inflasi riil akan sangat besar dan merata terjadi di dalam negeri," katanya.
Mohammad Nofal juga mengatakan, kenaikan harga BBM akan memengaruhi pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional. "Jika pemerintah pada tahun 2008 menargetkan pertumbuan 6,4 persen, bisa jadi realisasinya kurang dari lima persen," katanya sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (12/5).
Masalahnya, lanjut dia, kenaikan harga BBM akan memengaruhi target pencapaian pembangunan dalam banyak sektor sebab sektor riil stagnan karena melakukan pengetatan akibat penggunaan energi yang mahal.
Menjawab pertanyaan soal solusi yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan daya beli masyarakat miskin dengan meluncurkan kembali program bantuan langsung tunai (BLT) Rp 100.000 per bulan per keluarga, Nofal mengatakan,"Tidak banyak membantu".
Persoalannya, pengucuran BLT itu hanya bermain pada tataran perbaikan sementara daya beli sebagian rakyat. Menurutnya, BLT dilakukan melalui penataan sistem yang bisa menggerakkan perkembangan sektor riil agar berjalan normal.
Apalagi, lanjut dia, pelaksanaan BLT pada tahun-tahun sebelumnya banyak menimbulkan masalah akibat ketidakakuratan aparatur pemerintah dalam melakukan pendataan bagi mereka yang benar-benar harus dibantu. "Saya kira yang perlu dilakukan pemerintah menyikapi kebijakannya menaikkan harga BBM itu selain terus mendorong efisiensi besar-besaran di semua sektor guna mempertahankan APBN, juga yang harus dilakukan ialah menjaga agregat suplai dan demand melalui penerapan kebijakan fiskal yang fleksibel agar sektor riil dan investasi tetap eksis," katanya.