Nasib Nelayan Semakin Bergantung di BBM
Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi (kanan) dan Direktur Utama BRI Sofyan Basyir (kedua dari kanan) memberikan bantuan kepada nelayan secara simbolis di aula Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, Jakarta Utara, Minggu (23/3). Bantuan bagi 32.000 nelayan pesisir itu diserahkan bagi nelayan di empat lokasi, yaitu Muara Angke, Muara Baru, Muara Gembong, dan Karawang.
Minggu, 11 Mei 2008 | 09:59 WIB

PONTIANAK, MINGGU - Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) masih mengkaji formula yang tepat untuk nelayan dalam menghadapi kenaikan harga BBM yang diperkirakan berlaku mulai Juni 2008.

"Ada beberapa solusi yang disiapkan tetapi belum bisa disampaikan sekarang karena masih akan dikaji dengan melibatkan berbagai pihak terkait," kata Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi usai meninjau kapal nelayan asing di Pelabuhan Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu sore.

Pemberian paket subsidi pembelian solar murah kepada nelayan termasuk yang akan dikaji. "Paket subsidi kepada nelayan dulu juga sudah pernah dilakukan," katanya. Selain itu, program stasiun pengisian bahan bakar di "kantong-kantong" nelayan juga dilanjutkan. "Nelayan tidak perlu membeli di luar," tambahnya.

Ia menampik kekhawatiran bahwa kenaikan harga BBM akan membuat nelayan asing marak mencuri ikan di perairan Indonesia karena keterbatasan jangkauan nelayan lokal akibat tingginya biaya operasional."Itu baru wacana saja. Patroli di laut dilakukan 24 jam terus menerus, semuanya kompak (menjaga-red)," kata Freddy Numberi yang baru saja tiba di Pontianak dari kunjungan ke Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Sementara Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IV, Laksamana Pertama TNI Marsetio MM menambahkan, pengamanan di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dilakukan bersama Angkatan Laut dan DKP."Sekarang kapal perang di Lantamal IV bertambah satu unit menjadi tiga unit. Sudah di AKLI," kata Marsetio.

Biaya BBM mencakup 70 persen dari total pengeluaran nelayan selama melaut. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalbar mengingatkan ancaman semakin maraknya pencurian ikan di perairan Indonesia oleh nelayan asing menyusul rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Kepala DKP Kalbar, Budi Haryanto mengatakan, kalau tidak ada kebijakan khusus bagi nelayan untuk memperoleh BBM secara mudah dan murah, mereka akan semakin jarang melaut di daerah yang sebenarnya rawan dimasuki nelayan asing. Ia mengatakan, meski dengan kondisi berat karena kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, nelayan masih dapat melaut hingga batas 12 mil laut. Naiknya harga BBM akan semakin sulit bagi nelayan untuk menjangkau kawasan tersebut.

Padahal wilayah laut hingga batas 12 mil dari garis pantai termasuk daerah yang memiliki potensi ikan tinggi. "Sewaktu panen ikan, bisa saja nantinya bukan nelayan Indonesia yang menikmati, tetapi nelayan asing," kata Budi Haryanto.    
   
Jumlah armada nelayan di Kalbar sekitar delapan ribu unit dengan mayoritas atau 94 persen diantaranya termasuk tradisional. Meski mayoritas, namun nelayan tradisional menyumbang sekitar 70 persen dari total produksi sektor perikanan di Kalbar yang jumlahnya mencapai Rp 2 triliun per tahun.


JIM
Sumber : ANT
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Dwi Adhi Nurohwati @ Jumat, 23 Mei 2008 | 16:40 WIB
Masalah kenaikan BBM memang tidak bisa kita hindari. namun ini hal ini jangan sampai menjadi kendala bagi para nelayan. Dalam hal ini pemerintah harus dapat memberikan solusi salah satunya memang harus memberikan jaminan kepada para nelayan untuk ketersediaan BBM dengan jumlah yang memadai dan harga yang masih dapat dijangkau. Pemerintah juga harus dapat menjamin bahwa nelayan tetap mendapatkan keuntungan walaupun harga BBM naik dalam artian jika hasil tangkapan dijual tetap akan menghasilkan keuntungan walaupun harga BBM tinggi dengan memberikan harga beli terhadap tangkapan dengan harga yangs esuai dengan mosdal yang dikeluarkan.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile5
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort