
BANDAR LAMPUNG, KAMIS - Organisasi Angkutan Darat Bandar Lampung keberatan dengan rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Kenaikan harga dipastikan membuat bangkrut pengusaha angkutan dan memberatkan pengguna jasa angkutan.
Ketua Harian Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bandar Lampung Mirwan Karim, Kamis (8/5) mengatakan, sejak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2005, angkutan kota Bandar Lampung terpukul dengan membeludaknya jumlah sepeda motor. "Para pengguna jasa angkutan memilih memiliki sepeda motor untuk menghemat biaya tarnsportasi, " kata Mirwan.
Dampak lebih lanjut, dari 2.500 unit angkutan kota yang beroperasi sebelum kenaikan harga BBM 2005, sampai sekarang tinggal 2.000 unit yang beroperasi. Tingkat operasional tidak disertai dengan penuhnya jumlah penumpang pemakai jasa.
Tingkat load factor atau tingkat terisinya kendaraan oleh penumpang ikut turun menjadi hanya 30 persen dari semula 70 persen. Hal tersebut berdampak pada turunnya pendapatan pengusaha angkutan.
Kendati demikian, untuk mendongkrak pendapatan, Organda Bandar Lampung tidak bisa seenaknya mengurangi jumlah angkutan kota di setiap trayek. "Mobil angkutan kota akan berkurang dengan sendirinya apabila trayek sudah penuh atau izin operasi habis, " kata Mirwan.
Menjelang kenaikan harga BBM, Organda Bandar Lampung mengajak Pemkot Bandar Lampung untuk duduk bersama berbicara dan mencari solusi dampak kenaikan harga BBM terhadap usaha angkutan. Organda Ba ndar Lampung memastikan, kenaikan harga BBM premium hingga 30 persen akan menaikkan tarif angkutan kota sebesar 50 persen. Sehingga tarif angkutan yang semula Rp 2.000 per penumpang akan naik menjadi Rp 4.000 per penumpang. "Kenaikan itu jelas akan memberatkan pengusaha dan pengguna jasa, " katanya.
LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |