BBM Naik, Pengembang Perumahan Cemas
Kamis, 8 Mei 2008 | 19:37 WIB

MALANG, KAMIS - Pengembang perumahan di Kota Malang mulai cemas atas rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Sebab belum sampai BBM naik, harga komponen bangunan sudah naik sekitar 30 persen.

Melihat rencana kenaikan BBM tentu ada kekhawatiran tersendiri bagi pengembang. "Jelas nanti harga rumah akan naik, dan daya beli masyarakat turun. Bagaimana kemudian kelangsungan pengembang perumahan kalau masyarakat tidak mampu membeli rumah?" tutur Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Malang, Gamma Bianrisa, Kamis (8/5) dalam acara Gathering Bank BTN Malang dengan REI Malang, di Regent Park Hotel, Malang, Jawa Timur.

Kenaikan BBM menurut Gamma secara umum minimal akan menaikkan harga rumah sebesar 10 persen. Kondisi ini tentu semakin mencekik para konsumen perumahan yang di lain pihak juga dibelit naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

"Sekarang saja BBM belum naik, harga-harga material seperti semen, pasir, dan sebagainya sudah naik 30 persen. Bagaimana pengembang tidak mulai khawatir?" ujar Gamma.

Naiknya BBM itu semakin menyulitkan pengembang, sebab di satu sisi mereka juga diharuskan membangun rumah sederhana sehat (RSH) bagi masyarakat berpenghasilan rendah. RSH itu pun dengan batasan harga Rp 55 juta setiap unitnya . Naik dari sebelumnya Rp 49 juta per rumah.

Padahal di Jawa Timur target RSH tahun 2008 ini sebanyak 20.000 unit rumah. Target ini naik dari tahun 2007 lalu yang hanya sebanyak 15.000 unit rumah."Di Kota Malang sendiri diperkirakan bisa dibangun sekitar 3000 RSH, " ujar Wakil Ketua Tim Percepatan RSH di Jawa Timur, Tri Wediyanto.

Menurut Tri, yang bisa dilakukan untuk bisa menyelamatkan pengembang dari kelesuan ini adalah dengan memberikan subsidi kepada RSH. Dengan naiknya harga BBM, pemerintah seharusnya meningkatkan subsidi. Kalau tidak ada kenaikan subsidi, maka harga rumah tetap tidak terjangkau oleh pembeli yang notabene daya belinya turun, ujar Wakil Ketua DPD REI Jatim itu.

Pengamat properti Jawa Timur Adri Istambul Lingga Gayo menambahkan bahwa bisnis properti tahun 2008 juga akan mendapatkan tantangan dengan adanya momen pemilihan kepala daerah baik di Jatim ataupun di kota/kabupaten di Jatim.

Menurut Adri, sedikit banyak investor akan melakukan revenue adjustment atau berhitung ulang atas investasi di bidang perumahan. Mereka akan cenderung wait and see. Hal ini bisa menyebabkan stagnasi atau kelambanan bisnis properti.

 

 

 


Dahlia Irawati
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
yulsatria @ Senin, 12 Mei 2008 | 10:53 WIB
BBM naik ,harga rumah pasti naik, korbannya adalah konsumen rumah,rakyat miskin mangkin miskin dan selamanya miskin,pemerintah sebaiknya menaikan BBM tidaklebih dari 5%,wass
yulsatria @ Senin, 12 Mei 2008 | 10:53 WIB
BBM naik ,harga rumah pasti naik, korbannya adalah konsumen rumah,rakyat miskin mangkin miskin dan selamanya miskin,pemerintah sebaiknya menaikan BBM tidaklebih dari 5%,wass
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile242
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort