BBM Naik, Biaya Produksi Pertanian Padi Akan Melambung Tinggi
Rabu, 7 Mei 2008 | 19:45 WIB

 

BANYUMAS, RABU - Biaya produksi pertanian padi diperkirakan akan melambung tinggi kalau harga bahan bakar minyak atau BBM akan naik pada Juni mendatang. Sejumlah pengusaha penggilingan padi di Banyumas pun mengaku, sebenarnya saat ini mereka sudah tak sanggup menghadapi harga BBM yang mahal.

Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas Faturo hman, Rabu (7/5), mengatakan, kenaikan harga BBM akan berdampak cukup besar terhadap harga beras karena biaya pengolahan gabah menjadi beras akan ikut melambung. Karenanya, pemerintah perlu mengoreksi lagi kenaikan harga pembelian pemerintah gabah setara beras yang baru saja diterapkan, dari Rp 4.200 menjadi Rp 4.700 per kilogram.

Kalau dihitung berdasarkan asumsi kenaikan BBM sebesar 30 persen, lanjutnya, biaya pengolahan gabah menjadi beras akan naik dari Rp 15 menjadi Rp 20 per kg. Biaya itu akan ditambah lagi dengan ongkos bongkar muat yang diperkirakan akan naik dari Rp 5 menjadi Rp 25 per kg. Ongkos angkut juga akan naik dari Rp 40 per kg menjadi Rp 55 per kg. "Semuanya ini naik harganya karena menggunakan BBM," ujarnya.

Karenanya, harga beras yang cocok sesuai dengan kenaikan harga BBM itu, kata Faturohman, berkisar Rp 4.700 per kg. "Kalau pemerintah tidak mau menaikkan HPP beras atau gabah setara beras dari Rp 4.300 menjadi Rp 4.700 per kg, kami para mitra Bulog akan meminta tambahan biaya untuk pengolahan dan pengangkutan," katanya.

Slamet Hadipura (77), pengelola Rice Mill Unit Sida Dadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, mengatakan, dengan harga BBM saat ini yang sudah mahal pun, keuntungan yang diperoleh hanya lima persen dari pendapatan. "Pendapatan yang diperoleh itu lebih banyak terserap untuk biaya bahan bakar solar untuk menjalankan mesin penggiling padi. Ditambah lagi dengan biaya membayar upah kuli," tuturnya.

Untuk 500 kilogram gabah yang digiling, katanya, pendapatan yang diperoleh hanya Rp 100.000. Pendapatan sebesar itu harus dipotong untuk membeli lima liter solar seharga Rp 21.500, ditambah lagi upah tiga kuli angkut seharga Rp 60.000. "Itu masih ditambah lagi dengan biaya pembelian suku cadang yang dari sekarang juga sudah merangkak naik. Jadi, keuntungannya sangat tipis," katanya.

Teguh (47), pengelola RMU Sri Maharga di Rempoah, Kecamatan Baturraden, malah mengaku, lebih baik tak lagi mengelola usaha penggilingan padi kalau BBM naik lagi. "Sekarang saja keuntungan yang diperoleh sudah tipis sekali. Apalagi nanti kalau BBM naik, sepertinya semakin berat. Lebih baik berhenti saja," katanya.

 


Madina Nusrat
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Muslim Saleh @ Kamis, 8 Mei 2008 | 10:21 WIB
Walaupun kenaikan BBM dsertai kompensasi BLT, saya yakin itu sangat memberatkan rakyat, Dengan BLT akan membuka peluang korupsi/KKN didaerah. Sebaiknya rakyat diberi kailnya jangan ikannya. Semoga Allah SWT memberikan ketabahan kepada rakyat yang masih terzalimi.
andre @ Kamis, 8 Mei 2008 | 09:12 WIB
ya tuhan apakah ini akan menunjukan kemurkaan mu kpd umat mu,,apakh ini tanda hari akhir mu..klo itu mau mu kami pun akan pasrah akan kehendakmu
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile4
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort