BBM Naik, Rakyat Miskin Bertambah
Warga Kelurahan Balla Barang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (25/3), antre menunggu jatah minyak tanah. Mobil tangki PT Pertamina yang menyalurkan minyak tanah bersubsidi hanya mendatangi kawasan itu dua kali dalam sepekan dan warga hanya boleh membeli maksimal tiga liter.
Video
Jumat, 2 Mei 2008 | 10:31 WIB

Laporan Wartawan PersdaNetwork, Rachmat Hidayat

JAKARTA, JUMAT -  Kenaikan harga bahan bakar minyak akan mengakibatkan meningkatnya penduduk miskin sebagaimana terjadi pada 2006. Kenaikan BBM mencapai 124 persen pada Maret dan Oktober 2005. "Padahal, di tengah gejolak pasar uang dan harga-harga komoditas strategis, kenaikan harga minyak nasional pasti akan meningkatkan inflasi. Itu berarti, pemangkasan daya beli dan mengurangi surplus ekonomi kelompok menengah bawah," tegas pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, Jumat (2/5).

Bila kenaikan harga BBM benar dilaksanakan, lanjuttnya, hal itu membuktikan pemerintah menjilat ludahnya sendiri. "Tidak hanya itu, pemerintah bahkan sedang memukul inflasi 2 kali lipat kelompok-kelompok masyarakat miskin yang tinggal di daerah yang akses dan produktivitasnya terbatas. Pukulan ini pernah dibuktikan oleh penelitian BPS bersama ADB di enam kabupaten miskin," jelasnya lagi.
 
Ditambahkan,kenaikan harga minyak adalah bukti kegagalan Pemerintah, DPR dan Bank Indonesia dalam menstabilkan harga-harga, termasuk harga minyak Keinginan pemerintah yang berencana menaikkan harga BBM karena gejolak harga minyak internasional, sebutnya, pada dasarnya menunjukkan rentannya ekonomi energi nasional sekarang ini. Rencana itu, tak lain juga gambaran buruknya prediksi, perencanaan dan antisipasi pemerintah sejak 16 Agustus 2007.
 
Noorsy mengatakan, pada Agustus 20007 dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2008, pemerintah memprediksi harga minyak tidak akan naik yang kemudian terbitlah APBN 20008 yang akhirnya gagal sebelum dilaksanakan. "Pada Februari 2008 pemerintah kembali ajukan Nota Keuangan dan RAPBNP 2008 dengan menyebutkan sebab-sebab gejolak ekonomi dan memprediksi dan menyepakati harga minyak 95 dollar AS per barrel dengan produksi 927ribu barrel per hari. Begitu APBPN P 2008, sudah dapat diduga, pemerintah akan mengubahnya lagi," papar Noorsy.
 
"Artinya jelas, ini adalah gambaran buruknya kebijakan yang sudah nampak sejak perancangan, pembahasan hingga keputusan dibuat," jelasnya lagi.
 
Dilihat dari aspek impor sebesar 1,2 miliar - 1,8 miliar dollar AS per bulan atau sekitar 60 persen dari kebutuhan nasional, kata Noorsy lagi,nampak bahwa ketahanan energi nasional memang rentan. Kerentan ini jelasnya,menjadi makin berlipat karena persoalan korupsi baik di sisi ekspor maupun pada sisi impor. "Tidak efektifnya kebijakan pemerintah menstabilkan harga berdampak menurunya kewibawaan pemerintah," kata Noorsy.
 
Sebelumnya,terkait rencana kenaikkan harga BBM ini Departemen Keuangan (Depkeu) telah mengkaji kenaikan harga BBM bersubsidi sekitar 28,7 persen pada 1 Juni 2008 akibat kenaikan harga minyak dunia yang hampir menembus 120 dolar AS per barel. Ini mengakibatkan mulai turunnya kepercayaan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008.

Menurut skenario Depkeu, harga BBM jenis premium akan naik dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter, solar naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter, dan minyak tanah naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.300 per liter.Kenaikan sebesar itu akan memberi ruang fiskal yang cukup longgar bagi APBN sebesar Rp 21,491 triliun serta menambah penghematan anggaran menjadi Rp 25,877 triliun.


YAT
Sumber : Persda Network
A A A
Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
jarak @ Jumat, 2 Mei 2008 | 14:40 WIB
Namanya juga rencana, Tuhan yang menentukan. Bukan berarti perencanaannya yang jelek karena kebijakan-kebijakan yang ada tentunya juga sudah disusun dengan pertimbangan-pertimbangan yang tentunya juga sudah masuk akal oleh orang-orang pilihan dan pintar di Indonesia. Dan tidak akan ada yang tahu kalau ternyata harga minyak pada tahun ini mencapai level yang tertinggi yang tidak dapat tertutupi oleh subsidi pemerintah. Mengingat Indonesia sebangai Net Importir minyak, sudah sewajarnya bila harga BBM di Indonesia juga naik. Yang harus dihapuskan dari bumi Indonesia adalah praktik KKN di segala sektor. Itulah yang paling merugikan Bangsa ini.
cliff @ Jumat, 2 Mei 2008 | 14:23 WIB
kritikus emang kerjanya cuma kritik tp mana solusinya..siapapun yg jadi pemimpin bgsa ini pasti akan menghadapi dilema yang sama..kita sbg rakyat cuma bisa mendoakan mereka agar diberi kearifan sambil berhemat energi..pastinya
surya @ Jumat, 2 Mei 2008 | 12:57 WIB
Emang gak mungkin pemerintah kasih subsidi terus,krn yg nikmatin sebagian besar kan orang kaya ! cuma imbasnya emang kena ke masyarakat miskin juga ! ini resiko yang sangat pahit ! Sekarang ini hanya orang kaya aja yang akan makin kaya sementara yang miskin akan terus saja terjebak dikemiskinannya,jgn bilang orang miskin malas,tapi sekali lagi UUD,ginama mau sekolah kalo mahal ? gimana mau usaha kalo modal gak ada ? semetara ada orang yang mampu menghamburkan uang berjuta2 dalam sehari !
yanti @ Jumat, 2 Mei 2008 | 12:57 WIB
BBM naik ! ya dimaklumi saja, semoga menjadikan pelajaran untuk kita untuk berhemat
SUDUNG MARULAK SITUMORANG @ Jumat, 2 Mei 2008 | 12:52 WIB
Kasihan rakyat kecil, ok kalau BBM naik, tapi tolong KORUPSI di TEKAN dong.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Advertorial
Kompas Mobile16
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort