Danau Terbesar di Dunia "Mendidih"
Danau Baikal, di Siberia, Rusia, merupakan danau air tawar terbesar di Asia terdalam di dunia.
Kamis, 1 Mei 2008 | 18:08 WIB

NEW YORK, KAMIS - Suhu rata-rata Danau Baikal, danau air tawar terbesar di Asia dan terdalam di dunia yang terletak di Siberia, Rusia mengalami kenaikan lebih cepat daripada kenaikan rata-rata suhu udara di dunia selama 60 tahun terakhir. Hal tersebut  menyebabkan nasib hewan-hewan unik yang hidup di perairan tersebut dalam keadaan terancam punah.

Kenaikan suhu di danau tersebut mencapai 1,21 derajat Celcius sejak 1946 akibat perubahan iklim atau hampir tiga kali lebih cepat daripada kenaikan suhu udara global. Hal tersebut dikatakan Marianne More, seorang profesor di Wellesley College di Massachusetts, AS, salah satu penulis dari karya tulis ilmiah yang akan dipublikasikan dalam jurnal "Global Change Biology" edisi Mei 2008.

Danau yang mengalami perubahan temperatus secara cepat itu memiliki 20 persen ikan air tawar yang ada di dunia yaitu sekitar 2.500 spesies yang tak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Bahkan, di antaranya terdapat satu-satunya anjing laut air tawar.

Jika tren naiknya temperatur tak dapat dicegah, lapisan es dapat hilang seluruhnya dari permukaan danau tersebut. Moore mengatakan, anjing laut air tawar yang membesarkan anak-anak mereka di atas lapisan es dapat sangat menderita karena hal tersebut. Anak-anak anjing laut air tawar juga lebih rentan terhadap serangan predator jika tak ada lagi gua-gua es sebagai tempat terlindungi.

"Perubahan dari mata rantai bahan makanan juga telah berubah. Jumlah zooplankton multiseluler yang biasanya hidup di air yang jauh lebih hangat telah meningkat menjadi 335 persen sejak 1946, sementara jumlah chlorophyl telah meningkat 300 persen sejak tahun 1979," kata Moore. Selain itu jumlah diatom yang hidup di es yang kemudian mati dan menjadi makanan bagi organisma kecil yang hidup di dasar danau juga makin berkurang.

"Berkurangnya lapisan es akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global itu sendiri," tandas Moore. Penemuan tersebut juga berarti hal yang lebih buruk dapat terjadi pada danau-danau yang lebih kecil lainnya. Selama ini, para ilmuwan berangapan volume air yang banyak di danau tak mudah terpengaruh dampak dari pemanasan global, namun kenyataanya  sangat rentan.


WAH
Sumber : Antara
Share on Facebook
Nilai 5.06 A A A
Ada 45 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Bradd Pitt @ Selasa, 9 Juni 2009 | 16:30 WIB
whdd??human iz not realize.. they olweyz make a new problem evry day.. we must realize for better tomorrow !! thx. bradd pitt~
grizzly @ Minggu, 5 Oktober 2008 | 17:48 WIB
wahh sepertinya kita harus mulai lebih serius lagi nich menghadapi global wrming we must stop global warming stop use cfc lets save our earth together
defa @ Jumat, 4 Juli 2008 | 23:54 WIB
Sadarlah kau wahai manusia.... membuat kerusakan dimuka bumi adalah dosa besar.
diah @ Selasa, 1 Juli 2008 | 12:23 WIB
kalo kita terus rusak bumi tercinta ini.................. apa kata dunia ?
bowie @ Selasa, 24 Juni 2008 | 15:32 WIB
kita mulai dari diri sendiri... kurangi penggunaan kertas... artinya mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk jadi bahan pulp... artinya ikut membantu mengurangi percepatan pemanasan global.... NAFSU DUNIA mempercepat PENGERUKAN KEKAYAAN ALAM. Mari hidup sederhana...
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
44