Rusunami Bukan Instrumen Investasi
Pengunjung mengamati rumah contoh rumah susun sederhana milik (rusunami) bersubsidi yang akan dibangun di kawasan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta, Senin (4/2).
Selasa, 29 April 2008 | 08:15 WIB

JAKARTA, SENIN -  Rumah susun sederhana milik atau rusunami bukanlah instrumen investasi properti yang tepat. Oleh karena itu, pembeli dari kalangan nonsubsidi seyogianya tidak memborong rusunami untuk alasan investasi.

Dalam penelitian konsultan properti, PT Procon Indah, disebutkan, aturan yang membatasi pemindahan kepemilikan rusunami dalam lima tahun menjadikan rusunami tidak tepat untuk investasi. Selain itu, setiap lima tahun muncul produk baru yang lebih menarik sehingga produk lama akan turun nilainya.

Junior Executive Strategic Advisory Procon Indah Sacha Amaruzaman menyatakan, pembelian oleh konsumen nonsubsidi hanya akan mempersempit kesempatan kalangan menengah ke bawah untuk memiliki hunian.

”Ada satu proyek apartemen bersubsidi yang 40 persen pembelinya investor. Ini kontradiktif dengan tujuan pembangunan rusunami yang dimaksudkan bagi penghuni akhir (end-user),” katanya di Jakarta, Senin (28/4).

”Serbuan” investor tersebut, menurut Sacha, karena tidak ada regulasi yang mengenai aturan komposisi pembelian unit rusunami. Akibatnya, pembangunan rusunami tidak tepat sasaran.

”Belum ada pembatasan. Bagi pembeli nonsubsidi harganya hanya dimahalkan 10 persen, yang sebenarnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai,” ujarnya.

Selain itu, kata Sacha, harga rusunami harus ditinjau lagi. Bagi masyarakat berpenghasilan maksimal Rp 4,5 juta per bulan, porsi cicilan hingga 30 persen dari penghasilan akan memberatkan.

Direktur Penasihat Strategis Procon Indah Utami Prastiana mengatakan, dari empat proyek rusunami yang diluncurkan kuartal I-2008, unit yang telah terjual 76,03 persen. Empat rusunami itu adalah Gateway, Ciledug; Gading Nias, Kelapa Gading; Eastpark, Jakarta Timur; dan Taman Moderen, Tangerang.

Procon memprediksi 5.249 unit rusunami lain yang diserahterimakan pada akhir 2008, yakni Prima Regency, Pulo Gebang; Citypark, Cengkareng; Cibubur Comfort, Cibubur; dan Taman Moderen, Tangerang.


RYO,OSA
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
wahyu @ Rabu, 7 Mei 2008 | 11:43 WIB
Yang beli lebih dari satu itu untuk perempuan simpanannya. Lebih murah beli rusunami daripada harus sewa hotel!!!
donny @ Selasa, 29 April 2008 | 09:40 WIB
siapa bilang bukan instrumen investasi yang baik, yang namanya rumah maupun apartemen pasti harganya naik, gak ada kan harga tanah turun, kecuali terjadi bencana kayak yang di sidoarjo, dimana masyarakat yg kena lumpur lapindo brantas, dibayar seharga rumah yang dibeli, malah sampe skrg ada yang belum dibayar. tp memang tidak etis sih, kalo pembeli rusunami dari kalangan mampu yang udah punya rumah lebih dari satu, kesannya kan jadi SERAKAH.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile242
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort