Ayah Tiri Jerumuskan ABG Jadi PSK
Kamis, 17 April 2008 | 08:22 WIB

SURABAYA - Sebetulnya bukan niat IWP untuk menjadi dirinya seperti sekarang. Rusaknya IWP, 19, siswi SMA swasta ternama di Surabaya utara hingga jadi pekerja seks komersial (PSK) pelajar, tak lepas dari kebobrokan ayah tirinya.

Siswi kelas III IPA itu kini meringkuk di penjara Polwiltabes Surabaya setelah ditangkap anggota Reskoba Idik II usai pesta sabu sabu (SS) dengan ‘tamu’ yang memesannya di kamar 222 Hotel Istana Permata Jl Dinoyo, Surabaya, Selasa (15/4) malam.

Cewek yang kos di kawasan Jl Tempel itu diringkus Kanit Idik II AKP A Efendi bersama anak buahnya saat akan keluar dari gerbang hotel. Begitu kamar 222 digeledah, ditemukan satu poket SS seberat 0,3 gram dan seperangkat alat isap SS.

“Hasil tes urine IWP positif. Kami menduga sebelum berbuat mesum, lebih dulu nyabu,” tutur Plh Kasat Narkoba Polwiltabes Surabaya AKP Totok Sumarianto, Rabu (16/4).

Saat ditemui Surya di Polwiltabes Surabaya, tersangka berperawakan mungil itu bicara blak-blakan tentang `pekerjaan sampingannya’ selain sebagai anak sekolah. ‘Pekerjaan’ berlumur dosa yang dilakukan hampir setahun ini, berawal dari perilaku ayah tirinya. Sambil menerawang langit-langit ruang penyidikan, ia menceritakan perilaku buruk ayah tirinya.

Sejak duduk di bangku kelas I SMA, ia kerap didatangi ayahnya saat tidur malam sembari pahanya digerayangi. Biasanya IWP langsung tersadar dan menendang ayahnya. Rupanya, ayah tiri IWP tidak begitu saja menyerah. Hampir tiap hari ia mendekati anaknya. Tapi usaha ayah bejat itu sia-sia. Merasa jengkel dengan anak tirinya, beberapa sarana penunjang sekolah mulai sepeda motor, ponsel dan biaya sekolah tidak diberikan. IWP dibiarkan begitu saja.

Dari kekalutan itu, IWP mulai berubah. Sebagai pelariannya, IWP sering cangkruk malam dengan teman-temannya di beberapa kafe di Surabaya menghabiskan uang sekolah. Saat tiba jatuh tempo bayar sekolah, IWP pun kelabakan. ”Uang tidak punya, kemana lagi aku harus mencari,” cerita IWP, Rabu (16/4).

Di tengah kegalauan itu, cewek berkulit sawo matang itu ketemu seorang temannya di sebuah kafe. Ia menceritakan masalahnya dengan ayah tirinya. Teman yang diajak curhat itu ternyata tak memberi solusi. Bahkan, ia ditawari melayani kencan orang lain dengan imbalan uang.

”Kan itu bisa mengganti uang yang tak diberi ayahmu. Malah lebih banyak. Mumpung ada orang di Bali cari perawan. Kamu dibayar Rp 10 juta,” ucap IWP menirukan ucapan temannya.

Tak kuasa oleh desakan, IWP bersama kenalan barunya itu menuju ke Bali naik sebuah travel. Seluruh biaya keberangkatan ditanggung orang yang pesan.  

Begitu menerima uang Rp 10 juta, cewek berambut sebahu itu menyerahkan Rp 2,5 juta ke temannya sebagai tanda jasa, dan Rp 7,5 juta dibawa sendiri. Tak sampai sebulan, uang sudah ludes. Dipakai membeli ponsel tipe terbaru, baju, makan dan bayar sekolah.

”Aku di Bali bolos sekolah selama empat hari,” ucapnya.

Bagaimana rasanya kamu melayani pertama kali?” tanya Surya.

”Ya pasrah saja. Mau gimana lagi. Tapi, ini pengalaman menyakitkan,” kata IWP sambil menutup wajahnya.

Sepulang dari Bali, ia tidak banyak bicara pada ibu dan ayah tirinya dan tidak memberi tahu jika ’mahkotanya’ sudah terjual. Rupanya, kelakuan ayah tirinya tetap tidak berubah. Ia merayu anaknya agar diberi ’jatah’. Karena tak ingin ibunya ditinggal ayah tirinya, IWP akhirnya menyerahkan tubuhnya ke ayahnya. ”Dua kali aku dipaksa `berbuat`,” katanya.

Perbuatan itu akhirnya terendus ibunya. IWP memilih keluar rumah dan kos di kawasan Tanjungsari. Di awal-awal bulan, ibunya masih memberi Rp 200.000 – Rp 300.000 untuk kos, makan dan sekolah. Setelah beberapa bulan hidup di rumah kos, tersangka mulai berpikir kemana harus cari uang.

”Kan nggak mungkin aku terus seperti ini,” jelasnya.

Akhirnya, tersangka bekerja sebagai purel di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jl Mayjen Sungkono (khusus warga asing). Tiap hari ia menenggak minuman keras mulai merek Martell, Chivas Regal dan Johnnie Walker. Bahkan tersangka kerap menemani orang luar negeri yang bermukim di Surabaya untuk kencan.

Dari hasil kerjanya menemani tamu, ia bisa mendapat tips dari tamu antara Rp 100.000 - Rp 200.000. Namun gaji sebulan (dari melayani tamu) bisa Rp 3 juta – Rp 4 juta. B

”Awalnya, aku berusaha menabung. Tapi aku kena liver, karena sering mengonsumsi minuman. Ya uangnya habis lagi deh buat berobat,” ungkapnya.

Setelah livernya kena, ia tidak lagi bekerja di tempat hiburan malam. Ia memilih menjadi cewek panggilan. Tarif sekali main Rp 500.000 selama 1 jam. Setiap pekan, tersangka bisa menjaring 2-3 tamu.

Sejak itu, IWP akhirnya makin mencebur di dunia PSK. Bahkan, tersangka pernah diundang khusus ke Makassar dan daerah luar Jawa lainnya untuk melayani tamu yang menginginkan PSK pelajar. ”Aku disediakan tiket pulang pergi dan pulangnya diberi uang Rp 2 juta,” celetuknya.

IWP kini hamil sebulan. Ia yakin itu karena hubungan dengan pacarnya, bukan dengan para tamunya. ”Sebelumnya pacarku tak tahu aku jadi PSK. Dia sempat marah ketika mengerti, tapi ya reda sendiri,” kata IWP.

Kini, meski mendekati Ujian Akhir Nasional (UAN), IWP harus meringkuk di tahanan karena kasus narkoba.  Plh Kasat Narkoba Polwiltabes Surabaya AKP Totok Sumarianto mengungkapkan, penyidik tetap memperhatikan apa yang diperlukan tersangka IWP. ”Mulai dari kandungannya hingga Unas akan kami urusi dan akan kami koordinasikan dengan Diknas,” tutur AKP Totok. (SURYA)



Share on Facebook
A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
yanuardo taslim @ Kamis, 17 April 2008 | 11:29 WIB
nah gimana tuk para ulama dan pemerintah mengenai masalah ini? jangan hanya jogetnya dewi persik aja yang diurusin,yang ini malah lebih penting.....
sony @ Kamis, 17 April 2008 | 10:43 WIB
bisnis esek2 adl bisnis terbesar ke 4 stl bisnis BBM, Senjata Api, Narkoba. bisnis esek2 tetap ada jika ada pembeli dan penjualnya, makanya perlu pendidikan sex dan penegakan hukum yg bagi semua pihak agar bisnis ini hilang. semoga
Jimmy @ Kamis, 17 April 2008 | 10:28 WIB
Disini harus benar2 ditegakkan undang2 tentang perlindungan anak, supaya anak ada tempat yg benar utk mengadu tatkala ortu mereka tdk bs melindunginya lagi, karena anak adl generasi bangsa yg harus diarahkan positif utk kemajuan bangsa ini.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
4