Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: views/read_view.php
Line Number: 447
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/read_view.php
Line Number: 477
Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: views/read_view.php
Line Number: 477
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/read_view.php
Line Number: 484
Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: views/read_view.php
Line Number: 484
Laporan wartawan Kompas Irma Tambunan
JAMBI, SELASA - Hutan bakau di Provinsi Jambi telah menyusut 64.498 hektar atau 94 persen. Konversi lahan dan eksploitasi kayu menjadi penyebab utamanya.
Senior Staff Wetlands International Indonesia Program, Iwan Tri Cahyo Wibisono mengatakan, fungsi hutan bakau untuk mengantisipasi daerah dari kemungkinan terjadinya bencana seperti tsunami atau banjir akibat air laut pasang. Sayangnya, sudah hampir seluruh hutan bakau di Jambi telah dieksplotasi dan lahannya dijadikan tambak perikanan.
Hutan bakau di Jambi kini tinggal 251 hektar, dari sebelumnya 64.749 hektar, ujarnya dalam Seminar Nasional: Penyelamatan Potensi Sumberdaya Lahan Basah Pesisir Pantai Timur Jambi, di Jambi, Senin (8/4).
Iwan melanjutkan, selain pada hutan bakau, kerusakan lahan basah juga terjadi di kawasan gambut. Kerusakan besar-besaran lahan gambut terjadi tahun 1997 seluas 25.000 hektar di Taman Nasional Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Pada areal ini, kerusakan lebih didominasi oleh kebakaran lahan serta pembukaan kanal untuk perkebunan sawit. Pembukaan kanal telah mengurangi tingkat basah pada lahan, dengan demikian memudahkan kebakaran makin meluas.
Menurutnya, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengembalikan lahan ini dari kerusakannya. Rehabilitasinya dapat berupa penanaman pohon.
Kerusakan pada lahan basah seperti hutan bakau dan lahan gambut cenderung terjadi di kantong-kantong masyarakat miskin. Untuk itu, tambahnya, pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar lahan basah perlu ditingkatkan. Sejauh ini pihaknya telah melaksanakan bio-right sebagai alternatif pengelolaan lahan basah berbasis masyarakat.
Dalam program ini, masyarakat lokal memperoleh kredit usaha kecil tanpa bunga dan jaminan, namun sebagai kompensasinya mereka diwajibkan melaksanakan kegiatan-kegiatan konservasi. Untuk wilayah pesisir Jambi yang merupakan areal hutan bakau, masyarakat yang telah membuka tambak ikan, dapat menanami bakau di antara kolam-kolam mereka. Dengan demikian, potensi bencana alam dapat dihindarkan.
Cherryta Yunia, Kasubdit Lahan Basah Konservasi Laut dan Ekosistem Esensial Direktorat Konservasi Lahan Departemen Kehutanan, mengatakan, lahan basah seperti hutan bakau dan gambut dapat berfungsi sebagai pengendali banjir dan kekeringan, karena menampung kelebihan air di musim penghujan dan menyalurkan cadangan air saat kemarau. Lahan basah juga dapat menjadi pengaman garis pantai dari abra si dan erosi, serta pengendali iklim global.
Sejumlah alternatif strategi yang dapat dilaksanakan untuk melindunginya, berupa peningkatan peran masyarakat dalam restorasi dan rehabilitasi lahan basah.