
CIBITUNG, JUMAT - Produsen semen PT Holcim Indonesia Tbk dan produsen semen instan PT Cipta Mortar Utama (MU) menjalankan strategi co-branding atau kerja sama merek untuk memperluas pasar keduanya.
Sejatinya, kerja sama seperti itu lazim dilaksanakan. Biasanya, seperti termaktub dalam tulisan Managing Partner The Jakarta Consulting Group A.B. Susanto kerja sama itu terjalin antara ingredient brand dengan finished product. Tujuannya agar nama dan perolehan fulus keduanya bisa ngerek alias naik menjulang.
Nah, menilik kerja sama Holcim dan MU, sebagai produsen semen, Holcim dapat dikatakan sebagai ingredient brand. Sementara, MU adalah finished product. "Semen yang akan kami pakai sebagai salah satu bahan pembuat semen instan ya semen Holcim," begitu kata Presiden Direktur MU David AL mendampingi Presiden Direktur Holcim Indonesia Timothy Mackay , Jumat (18/1) dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kedua pihak di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
MU yang menggelontorkan 22 produk semen instannya ke pasaran untuk berbagai keperluan pengerjaan tahap akhir bangunan seperti pemasangan bata hingga pemasangan keramik, kini, memiliki kapasitas produksi 600.000 ton per tahun. Rencananya, pertengahan 2008, MU akan menambah satu lagi pabrik di Gresik, Jawa Timur, sebagai strategi ekspansi ke wilayah Indonesia Timur. "Kapasitasnya separuh dari pabrik Cibitung," imbuh Marketing General Manager Jun Suryo Wardhana dalam kesempatan tersebut.
Holcim menguasai 16 persen pasar semen nasional pada 2007 lalu. Kapasitas produksinya mencapai 7,9 juta ton dengan optimalisasi produksi hingga 80 persen. Saat ini, konsumsi semen nasional mencapai 34 juta ton. Sementara, kenaikan angka konsumsi mencapai rata-rata 7 persen per tahun.
Pemanfaatan semen untuk bahan semen instan, kata Jun Suryo, berada di kisaran angka 40 persen dari konsumsi nasional. "Trennya sekarang memang semen instan tumbuh dua digit," ujar Jun.
Ahli bangunan
Namun, seturut penuturan David, semen instan di Indonesia memang baru sekitar sepuluh tahunan dikenal khalayak. "Kalau di luar negeri seperti di Jerman, itu sudah 40 tahunan dikenal," kata David.
Semen instan dengan ukuran komposisi yang sudah ditentukan pabrik diklaim mampu mereduksi tahap-tahap manual pengerjaan bangunan. "Kalau yang manual kan orang masih harus menyiapkan pasir, semen, dan bahan tambahan sendiri-sendiri. Lalu, bahan-bahan itu dicampur," jelas David.
Kehadiran semen instan berteknologi, masih menurut David, mengurangi pengaruh pencampuran secara manual pula. Ujung-ujungnya, hal itu akan berpengaruh pada kualitas bangunan. Artinya, semakin pencampuran dilakukan cermat, semakin tinggi pula kualitas bangunan.
Sementara, tantangannya, seperti diamini Jun, pemahaman mengenai semen instan perlu diperluas. Upaya inilah, jelasnya, yang juga menjadi bagian dari nota kesepahaman tadi. "Yang pertama, tentunya, kami mengedukasi para ahli bangunan yang memang menangani langsung proyek pembangunan," kata Jun.
MU, terang Jun, akan ikut ambil bagian dalam edukasi mengenai semen yang sebelumnya sudah beberapa kali dijalankan Holcim. "Nanti kami akan masukkan kurikulum semen instannya," tambah Jun.
Selanjutnya, terkait jaringan pemasaran, selama beberapa bulan ke depan, Holcim dan MU akan mengkaji jaringan distribusi masing-masing. Menurut Jun, tetap terbuka peluang untuk saling memanfaatkan jaringan distribusi antara kedua pihak.
LAYANAN BERITA SMS 9858 XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE |
||
Layanan |
Langganan |
Berhenti |
| Berita Politik | REG POL | UNREG POL |
| Berita Metropolitan | REG METRO | UNREG METRO |
| Berita Breaking News | REG BN | UNREG BN |
| Berita Internasional | REG INT | UNREG INT |
| Berita Ekonomi/Bisnis | REG BIS | UNREG BIS |