Darah Perawan, Seberapa Penting?
Selasa, 13 Mei 2008 | 10:15 WIB

DALAM berbagai agama seperti Islam, Kristen, Hindu dan Yahudi telah berkembang keyakinan bahwa hilangnya keperawanan sebelum pernikahan adalah  hal yang sangat memalukan.  Bahkan dalam ajaran Kristen, keyakinan akan keperawanan Bunda Maria (Ibu Jesus) adalah fondasi kuat dalam menempatkan keperawanan sebagai hal penting dalam kehidupan. Secara tradisional, dalam perayaan pernikahan di Barat, cadar serta gaun putih juga dijadikan sebagai sebuah simbol keperawanan seorang pengantin.

Istilah keperawanan memang telah digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tak pernah berhubungan seksual.  Keberadan selaput dara yang utuh seringkali dijadikan bukti fisik dari keperawanan.  Lebih jauh lagi, masayarakat di negara berkembang yang persepsi serta pengetahuan seksualnya rendah,  keyakinan akan keperawanan ditandai dengan keluarnya darah pada saat malam pertama.  Darah inilah yang dikenal dengan istilah "Darah Perawan".

Akan tetapi, seperti dipaparkan Profesor Wimpie Pangkahila Sp.And, pakar  Andrologi dan Seksologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali, darah perawan itu sebenarnya hanya mitos belaka  "Wanita yang tidak terangsang untuk ngeseks atau sedang berada dalam tekanan psikogenik (kejiwaan dan genetika), bisa mengalami pendarahan ketika ia memaksakan hubungan seks," ungkapnya dalam sebuah makalah tentang kesehatan seksual.

"Namun begitu, wanita yang benar-benar terangsang hasratnya dan terbebas dari beban psikologis tidak akan mengalami pendarahan meski ia melakukann hubungan seks untuk pertamalinya. Oleh sebab itu, sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa istilah darah perawan hanyalah mitos belaka," jelasnya.

Sayangnya, lanjut Prof. Wimpie, mitos soal darah perawan seringkali menimbulkan masalah yang merugikan wanita. Tak jarang para suami yang berani menceraikan sang istri jika ia tidak melihat darah perawan pada saat malam pertama.

Di sebuah negara seperti Turki,  ada dokter yang bersedia melakukan uji keperawanan atas permintaan pasien, meskipun hal ini ditentang oleh Asosiasi Kedoketaran di sana.  Uji keperawanan sebenarnya tidak berarti sama sekali karena selaput dara yang robek atau rusak bukan berarti seorang wanita pernah melakukan hubungan seks. 

Hal itu, menurut Wimpie, dapat disebabkan penggunaan tampon (sumbat kapas sebesar jari) atau kebiasaan masturbasi memakai alat yang dimasukkan pada vagina. Di lain pihak, ada pula para wanita yang  organ intimnya tidak memiliki selaput dara dengan persentase kurang dari 0,03 persen (Jenry et al 1987).

Sebaliknya, keutuhan selaput dara pun tidak serta merta menunjukkan seorang wanita tak pernah melakukan hubungan seks. Faktanya, selaput dara tidak harus selalu robek setelah berhubungan intim.  Hasil pengujian selaput dara pada 1.000 remaja putri  yang pernah melakukan seks lewat vagina menunjukkan kebanyakan selaput  tampak kacau, tidak menentu, dan mengumpul di bagian pinggir vagina. Jarang terjadi selaput dara terbelah secara komplet atau benar-benar sobek.

Lebih jauh, status selaput dara juga tidak berkaitan dengan perilaku seksual. Utuhnya selaput dara tidak berarti bahwa wanita tidak pernah melakukan aktivitas seks. Seorang wanita mungkin saja pernah melakukan berbagai jenis aktivitas seks termasuk oral, kecuali seks dengan penetrasi.  Pada kasus ini, tentu saja selaput dara masih akan tetap utuh.

Pada situasi yang tak jelas ini  para dokter dituntut menjelaskan hal yang sesungguhnya tentang keperawanan dan selaput dara ini. Sayang, ada beberapa dokter yang justru melakukan praktik memperbaiki atau meniru selaput dara. Pada tahun 1960, praktik yang disebut hymenoplasty berkembang di Jepang untuk membantu banyak gadis yang sudah sering melakukan hubungan seks. Meski para dokter yang mempraktikkan hymenoplasty ini beralasan bahwa etika rekonstruksi selaput dara ini bisa dibandingkan dengan bedah plastik, pendapat ini tidaklah ilmiah.

Tindakan bedah plastik dilakukan pada bagian tubuh seperti wajah atau payudara dan tidak terkait dengan mitos. Para dokter diharapkan mempunyai tanggungjawab moral guna menghapus mitos yang menyesatkan dan tak bermanfaat. Dengan begitu, tindakan peniruan selaput dara atau hymenoplasty pada gadis yang sudah tidak perawan hanyalah akan menjadi upaya memelihara, mengabadikan mitos tentang selaput dara dan keperawanan. 


AC
Nilai 4.64 A A A
Ada 44 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
buat bayu yang menyamakan keperawanan dengan air mineral bersegel @ Rabu, 17 September 2008 | 22:33 WIB
Memang punya lelaki tidak bersegel? Bersegel juga tuh, tapi khan udah dibabat habis sama juru sunat. Nggak malu tuh nuntut orang lain masih bersegel tapi segelnya sendiri udah hilang entah kemana?
adit @ Rabu, 17 September 2008 | 13:18 WIB
hari gini msih mikirin perawan..... CAPEK DECH.....
Dewo @ Selasa, 16 September 2008 | 16:13 WIB
Hai para wanita ga usah takut kalau anda sudah tidak perawan lagi. Saya pikir pola pikir laki-laki sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, laki-laki sekarang sudah lebih realistis.
DEVil @ Selasa, 16 September 2008 | 15:49 WIB
kalo selaput yg diluar sobek apa dikatan suadah ngak perwan ?????????????????? apa setiap yag kos dominan dengan ketidak perwanan??????????
anastasia2007 @ Rabu, 10 September 2008 | 12:04 WIB
kadang hidup ini tidak adil, pria mengharapkan wanita yg akan dinikahinya perawan, tp apakah dia masih perjaka? tapi bagaimana melihat dari selaput darah yg udah pecah ato masih utuh?
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Kompas Mobile22
LAYANAN BERITA SMS 9858
XL, TELKOMSEL, INDOSAT, FLEXI, FREN & THREE
Layanan
Langganan
Berhenti
Berita Politik REG POL UNREG POL
Berita Metropolitan REG METRO UNREG METRO
Berita Breaking News REG BN UNREG BN
Berita Internasional REG INT UNREG INT
Berita Ekonomi/Bisnis REG BIS UNREG BIS
 

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort