Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Dunia Mengecewakan Rakyat Myanmar

Kompas.com - 28/10/2022, 06:43 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

NEW YORK, KOMPAS.com - Masyarakat internasional telah mengecewakan rakyat Myanmar sejak junta militer mengambil alih kekuasaan tahun lalu, kata Thomas Andrews, pelapor hak asasi manusia PBB untuk negara Asia Tenggara itu, pada Rabu (26/10/2022).

Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta militer. Sebagian besar negara dilanda pertempuran.

Lebih dari 2.300 orang tewas akibat tindakan keras militer terhadap pengunjuk rasa sejak kudeta, yang menurut kelompok hak asasi manusia termasuk penghancuran desa, pembunuhan massal di luar proses hukum, dan serangan udara terhadap warga sipil.

Baca juga: Menteri Luar Negeri ASEAN Berkumpul di Jakarta Bahas Perdamaian Myanmar

"Pola respons masyarakat internasional terhadap kengerian ini tidak berubah," kata Thomas Andrews, dikutip dari kantor berita AFP.

"Dan karena itu, tidak ada tekanan yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan apa pun dalam perilaku junta militer."

Ia menyebutkan, hal ini tidak dapat dimengerti oleh orang-orang dari bangsa yang dulu bernama Burma tersebut.

"Dunia mengecewakan rakyat Myanmar, bagi saya tidak ada pertanyaan apa pun," lanjut Andrews, seraya mengecam Dewan Keamanan PBB yang disebutnya tidak bertindak.

"Ada kekosongan kepemimpinan, di sini di PBB dan komunitas internasional," tambahnya.

Dia menggarisbawahi ada hubungan antara junta dan Rusia, serta mengakui bahwa resolusi Myanmar yang menjatuhkan sanksi atau embargo penjualan senjata akan diveto.

"Lalu apa yang kita lakukan? Apakah kita hanya mengangkat tangan?" tanya Andrews.

"Apa yang saya dorong untuk negara-negara anggota lakukan dan apa yang saya dorong mereka secara individu dan apa yang saya dorong mereka lakukan hari ini adalah untuk membentuk koalisi negara-negara yang bersedia berdiri dengan dan untuk rakyat Myanmar," ujar diplomat itu.

Baca juga:

Dia mengemukakan bahwa veto Rusia di Dewan Keamanan PBB tidak mencegah banyak negara menghukum Moskwa dengan sanksi karena menyerang Ukraina.

Andrews pun mendesak masyarakat internasional untuk tidak memperburuk keadaan dengan memberikan legitimasi pada pemilihan umum yang diumumkan oleh junta, yang ia sebut sebagai lelucon. Dia memberi contoh India yang mempertahankan hubungannya dengan junta Myanmar.

Dia juga mengkritik Malaysia karena mendeportasi pencari suaka Myanmar kembali ke negara asal mereka.

Baca juga: PBB Desak Malaysia Setop Pulangkan Pencari Suaka Myanmar, Ini Alasannya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber AFP

Terkini Lainnya

AS Klaim Tak Terapkan Standar Ganda soal Israel dan HAM, Apa Dalihnya?

AS Klaim Tak Terapkan Standar Ganda soal Israel dan HAM, Apa Dalihnya?

Global
Kecelakaan 2 Helikopter Malaysia Jatuh Terjadi Usai Rotornya Bersenggolan

Kecelakaan 2 Helikopter Malaysia Jatuh Terjadi Usai Rotornya Bersenggolan

Global
Kata Raja dan PM Malaysia soal Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut yang Tewaskan 10 Orang

Kata Raja dan PM Malaysia soal Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut yang Tewaskan 10 Orang

Global
Arab Saudi Jadi Ketua Komisi Perempuan, Picu Kecaman Pegiat HAM

Arab Saudi Jadi Ketua Komisi Perempuan, Picu Kecaman Pegiat HAM

Global
Malaysia Minta Video Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut Tak Disebarluaskan

Malaysia Minta Video Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut Tak Disebarluaskan

Global
Puluhan Pengunjuk Rasa Pro-Palestina Ditangkap di Kampus-kampus AS

Puluhan Pengunjuk Rasa Pro-Palestina Ditangkap di Kampus-kampus AS

Global
Rangkuman Hari Ke-789 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Garis Depan Ukraina | Perjanjian Keamanan

Rangkuman Hari Ke-789 Serangan Rusia ke Ukraina: Situasi Garis Depan Ukraina | Perjanjian Keamanan

Global
Secara Ekonomi, Cukup Kuatkah Iran Menghadapi Perang dengan Israel?

Secara Ekonomi, Cukup Kuatkah Iran Menghadapi Perang dengan Israel?

Internasional
AS Tak Mau Disebut Terapkan Standar Ganda pada Rusia dan Israel

AS Tak Mau Disebut Terapkan Standar Ganda pada Rusia dan Israel

Global
Serangan Israel ke Iran Sengaja Dibatasi Cakupannya

Serangan Israel ke Iran Sengaja Dibatasi Cakupannya

Global
Unilever Tarik Kembali Produk Magnum Almond Terkait Kontaminasi Plastik dan Logam di Inggris dan Irlandia

Unilever Tarik Kembali Produk Magnum Almond Terkait Kontaminasi Plastik dan Logam di Inggris dan Irlandia

Global
Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut di Malaysia, 10 Korban Tewas, Tak Ada yang Selamat

Tabrakan 2 Helikopter Angkatan Laut di Malaysia, 10 Korban Tewas, Tak Ada yang Selamat

Global
Rishi Sunak Janjikan Paket Militer untuk Ukraina hingga Rp 10 Triliun

Rishi Sunak Janjikan Paket Militer untuk Ukraina hingga Rp 10 Triliun

Global
Mengapa Israel Menyerang Kota Isfahan di Iran?

Mengapa Israel Menyerang Kota Isfahan di Iran?

Internasional
Kim Jong Un Awasi Latihan Serangan Balik Nuklir

Kim Jong Un Awasi Latihan Serangan Balik Nuklir

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com