bukan hanya wanita, ibu tapi juga istri
Kamis, 10 Juni 2010 07:39
Sejak ayah terkena penyakit asam urat yang membuatnya tidak bisa berjalan memaksa ibu untuk menggantikan posisi ayah.
Meski aku pun membantu dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta tapi hanya cukup untuk biaya sekolahku saja (aku kuliah).
Pagi buta sekitar pukul 3 subuh ibu selalu bangun, waktu tak penting baginya. yang ada
dipikirannya adalah bagaimana cara mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membiayai ketiga adikku yang masih sekolah.
Padahal usianya sudah tidak muda lagi tapi semangatnya melebihi jiwa muda bahkan tak pernah ku dengar ibu mengeluh.
Bismilah kalimat awal yang selalu terdengar ketika ibu memulai aktivitasnya membuat adonan kue sistik. Mulai dari Membuat adonan, menggoreng dan mengemasnya kedalam plastik hingga memasarkan ke warung- warung ibu jalani sendiri. Ya lumayan katanya kalo kita yang kerjain sendiri hasilnya kan bisa lebih maksimal. Tak hanya sampai disitu siangnya ibu pun harus menjaga bengkel pencucian motor (usaha yang sempat dirintis ayahku).
Tapi dari kerja keras ibu tak sia- sia, sekarang Sistik bikinanya sudah mulai dipasarkan ke pasar- pasar dengan langganan tetap dan sekarang sudah punya karyawan meskipun Cuma ibu- ibu dan para tetangga yang sama- sama mencari uang. Bengkel pun sudah mulai bisa diandalkan karena pengguna kendaraan kian banyak saja
Adiku yang satu sudah lulus sekolah dan bekerja sambil kuliah, yang satu sekarang masih sekolah SMA kelas 1 dan yang paling kecil SD kelas 5.
Meskipun sibuknya ibu tidak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang istri yang selalu santun pada suami dan ibu yang mengayomi anak- anaknya.
Entah bagaimana lagi mengungkapkan kekagumanku pada ibu.
dibaca 1695 kali | komentar 2
Posting Komentar Anda
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.