|
Artikel Terkait:
Dua Tarian Iringi Resepsi Malam Pernikahan Puteri Sultan HB X
YOGYAKARTA, KOMPAS - Dua tarian keraton, yakni tari Bedaya Manten (Beksan Sangaskara) dan Beksan Lawung Ageng mengiringi acara resepsi pernikahan puteri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, yakni Gusti Kanjeng Ratu Maduretno dengan Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat, Jumat (9/5) malam di Yogyakarta. Kedua tarian itu memang khusus dibawakan saat keraton menggelar pernikahan. Bedaya Manten dibawakan enam penari. Tarian yang diciptakan Sultan HB IX pada tahun 1950 ini berkisah tentang prosesi pernikahan manusia. Sedangkan tari Beksan Lawung Ageng bercerita tentang perang-perangan prajurit sebagai abdi dalem raja. Kedua tarian tersebut dibawakan dalam waktu sekitar 45 menit di hadapan lebih dari 3.000 tamu undangan. Resepsi pada malam hari itu berlangsung di Bangsal Kencana yang dihadiri lebih banyak tamu dibanding resepsi pagi hari. Sebab, sebagian tamu yang dijadwalkan untuk pagi hari datang pada malam hari sehingga terjadi antrean panjang dari tamu undangan yang hendak memberi ucapan selamat. Beberapa tamu yang datang adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, seniman sekaligus pengusaha jamu Jaya Suprana, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, hingga mantan Kapoltabes Kota Yogyakarta Haka Astana . Resepsi malam hari, banyak dihadiri pejabat di tingkat DIY. Tamu-tamu asing lebih banyak datang pagi hari. Pengamanan pada malam hari lebih longgar ketimbang pagi, karena tidak dipasang metal detector. Pada resepsi pagi hari, metal detector dipasang di pintu masuk, karena Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir.
|
|