Mestinya Bukan Hanya Hantu-hantuan dan Komedi Seks
Senin, 5/5/2008
Kompas
Deddy Mizwar
Artikel Terkait:
  • Aria Kusumadewa Garap 'Kentut' Bareng Deddy Mizwar..
  • Deddy Mizwar: Apa Itu Film Anak?..
  • Deddy Mizwar Aktor Terbaik IMA 2008..
  • "NAGABONAR" Si Naga yang Kian Kinclong ..

JAKARTA, MINGGU - Aktor-sutradara film, Deddy Mizwar, mengatakan bahwa film-film Indonesia seharusnya tampil dengan tema yang lebih beragam karena Indonesia memiliki akar budaya yang beragam sebagai inspirasi dalam membuat film.
   
"Kita bangsa yang majemuk dan sangat dinamis. Jadi seharusnya (tema) film Indonesia memang beragam. Tidak seperti sekarang yang menonjol hanya tentang hantu-hantuan dan komedi seks," katanya dalam diskusi bertema "Mencari Wajah Film Indonesia", yang berlangsung di Sanggar Teater Populer Jalan Kebon Pala, Tanahabang, Jakarta Pusat, Minggu (4/5).

Bintang film Nagabonar juga mengatakan, keragaman tema film Indonesia menjadi penting dan mendesak kehadirannya karena ia merupakan bagian dari demokratisasi di dunia perfilman Indonesia. Film yang memiliki unsur demokratis dapat mengajarkan masyarakat tentang semangat demokrasi sekaligus belajar menghargai hasil karya orang lain.
   
Diskusi tentang perfilman ini merupakan gagasan aktor Alex Komang dan Slamet Raharjo dari Teater Populer. Selain Deddy Mizwar, pembicara lainnya ialah Mira Lesmana, Arswendo Atmowiloto, dan  Tommy F Awuy.

Alex Komang mengatakan, diskusi ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mencari wajah atau ciri khas Indonesia dalam film Indonesia. Tema ini diangkat karena maraknya film-film Indonesia dengan judul bahasa asing, film yang temanya seperti film India, dan film bercorak kebarat-baratan.
   
"Wajah film Indonesia yang dimaksud adalah nilai-nilai seperti apa yang ada dalam film Indonesia, apakah sudah menunjukkan identitasnya sebagai film yang mengangkat budaya sendiri atau yang merupakan hasil akulturasi budaya dengan bangsa lain," katanya.
   
Sementara itu Mira Lesmana mengatakan, diperlukan keberanian untuk bicara "jujur" dalam menggarap sebuah film. Artinya, seorang kreator harus berani mengangkat nilai-nilai kedaerahan yang dimilikinya sehingga dapat mewarnai wajah perfilman Indonesia.
   
"Selama 10 tahun saya berproses dalam film dan hingga kini masih berupaya menemukan wajah film Indonesia. Saya rasa keragaman adalah kuncinya. Kita tidak harus seragam kok dalam menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan dalam film. Jangan takut untuk bicara jujur dalam film," katanya.
   
Mira mencontohkan kesuksesan film Petualangan Sherina merupakan salah satu film yang menggunakan kejujurannya. Film ini dibuat dengan menggali unsur yang dekat dengan masyarakat Indonesia sehingga akan mudah diterima penonton.
   
Diskusi yang berlangsung di Sanggar Teater Populer ini, menurut Alex, akan digelar setiap bulan dengan mengangkat tema-tema yang berbeda. Diskusi tidak hanya berbicara seputar dunia perfilaman, melainkan juga kesenian dan kebudayaan pada umumnya. (ANT)

Share on Facebook
AAA
Posting Komentar Anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
 
POLLING
Ongky Alexander kembali didapuk memerankan tokoh Boy dalam film Catatan Si Boy yang sangat populer di era 80-an. Di film inilah namanya melambung. Ongky Ingin tampil maksimal dalam film tersebut. Ongky bahkan bertekad menghilangkan timbunan lemak di sekujur tubuhnya agar tampil prima. Tapi masih pantaskah Ongky memerankan tokoh Boy, pemuda kaya tapi tidak sombong itu? Bagaimana menurut Anda?
Pantas
Tidak Pantas