

KUDUS, SENIN-Setelah sempat lowong beberapa bulan, jabatan Ketua Umum Persiku Kudus, sejak Minggu (11/5), sudah terisi kembali. Mustofa yang menurut rencana akan dilantik menjadi Bupati Kudus periode 2008 2013, terpilih secara aklamasi untuk memimpin Persiku hingga Mei 2012.
Terpilihnya Mustofa sudah bisa dengan mudah ditebak, karena acuannya sebagian besar persatuan sepakbola perserikatan di Indonesia ketua umumnya bupati atau walikota. Ini terkait dengan sumber pendanaan sepakbola mengandalkan anggaran pembangunan belanjda daerah atau APBD.
Namun sejak Menteri Dalam Negeri melarang penggunaan APBD untuk sepakbola mulai tahun anggaran 2008 maka secara tidak langsung mengisyaratkan seorang ketua umum tidak harus dijabat bupati. Bahkan Bupati Jepara, Hendro Martojo yang juga terpilih sebagai Ketua Umum Persijap Jepara hingga dua periode, beberapa minggu terakhir juga memilih mengundurkan diri.
Jika toh tetap mengandalkan bupati, sebaiknya jabatan strategis seperti sekretaris umum dan manajer tim, maupun yang lain, dipegang kalangan swasta. "Terutama personil yang tahu banyak tentang persepakbolaan, serta tidak memanfaatkan organisasi sepakbola dijadikan ladang penghasilan dan jangan sekali-kali berharap memperoleh kucuran dana dari APBD," tutur Hidayat, salah satu pemerhati bola di Kudus.
Mustofa pun maklum, sehingga ketika diminta untuk menyusun kepengurusan minta waktu satu minggu dan ia didampingi dua orang formatur. "Saya sangat mengharap masukan dari berbagai pihak, agar langkah awal menyusun kabinet Persiku cukup tepat dan langkah ke depan juga mantap," tutur Mustofa kepada Kompas, Senin (12/5).
Persepakbolaan di Kudus sempat menyeruak ke tingkat nasional, ketika Persiku untuk kali pertama mampu menembus Divisi Utama, kasta tertinggi persepakbolaan tanah air sebelum 2008. Tepatnya setelah menjadi juara II kompetisi Divisi I Perserikatan PSSI periode 1993/1994.
Namun karena Bupati Kudus, saat itu dipegang Soedarsono tidak bersedia mengurus dan mendanai Persiku dan lebih baik mengalihkan pendanaan untuk membangun pasar, a kibatnya Persiku hanya sempat mengikuti satu musim kompetisi 1994/1995 dengan hasil lumayan baik.Setelah itu menghilang dan akhirnya terdegradasi, kembali ke papan bawah tanpa berlaga sama sekali.
Baru pada musim kompetisi 2008 inilah , Persiku mampu promosi lagi ke Divisi Utama, meski harus diembel-embeli dengan berbagai persyaratan, hingga dihadang berbagai macam kendala. Seperti utang pengurus Persiku sebesar Rp 2,7 miliar, belum adanya sumber dana untuk membiayai kompetisi Divisi Utama, kurang lengkapnya Stadion Wergu Wetan (misalnya belum adanya lampu), hingga perekrutan pemain.
Ini menjadi tugas berat pertama bagi Mustofa diawal memimpin Kabupaten Kudus, tetapi menjadi sedikit ringan ketika pengurus Persiku 2008-2012 mau bekerja ekstra keras , terbuka dan bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, karena inilah yang sebenarnya diingini perusahaan industri di kota kretek agar sepenuh hati memberikan bantuan maksimal.(SUP)
Dibaca : 586 | Dikomentar : 0
Natanael Suprapto