

KITA semua pasti pernah khilaf. Berbuat salah – entah disengaja atau tidak. Tapi, tentulah tidak semua kita pernah merasakan bagaimana perih-pedih didera ketakutan akibat sang alpa.
Sebuah fase – menurut para pelakunya – yang sungguh membuat depresi dan frustrasi. Membuat kesalahan saja sudah berat, apalagi dibumbui bayang-bayang risiko besar sebagai efek peristiwa yang biasanya terlambat kita sesali itu.
Bagi kita yang berstatus orang biasa alias warga kebanyakan mungkin sedikit penyimpangan tak mengapa. Lain soal bagi mereka yang dipercaya menjadi sosok sentral dalam komunitasnya.
Entah itu pejabat, selebritis, atau tokoh organisasi. Nama baik, citra bersih, reputasi terhormat kadang menjadi segala-galanya bagi public figure itu. Sedikit saja tercoreng, kerapkali berarti kemunduran atau bahkan kematian kecemerlangan mereka. Meredupkan segala kebenderangan yang terpancar dari sosok jati diri.
Itu sebabnya kenapa hari-hari ini Ronaldo merasa perlu menutup diri dan hidupnya untuk sementara waktu, usai ulahnya menjadi berita utama media-media sekolong jagat. Mengunci diri di rumah, menolak komunikasi dengan pihak luar, membatalkan dua appoinment tampil di acara televisi lokal yang telah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya.
Alasan resmi yang dipublikasikan adalah Ronaldo memerlukan waktu sendiri untuk melanjutkan sesi fisioterapi. Padahal, sesungguhnya, striker AC Milan itu tengah berupaya memulihkan mentalnya. More...
Apa yang menimpa Ronaldo memang terbilang fatal. Usai menyaksikan kemenangan Flamengo – tim favoritnya – di Stadion Maracana, Ronaldo bermaksud having fun dengan menyewa 3 pekerja seks komersial (PSK).
"Tidak ada yang salah dengan keinginan Ronaldo bersenang-senang," demikian bunyi rilis resmi yang dikutip dari website personalnya.
Belakangan diketahui jika hal itu dilakukan usai mengantarkan pacarnya pulang. Mantan striker Inter Milan dan Real Madrid itu lantas check in di sebuah motel. Baru di tempat itulah dia menyadari bahwa yang diajak berkencan adalah laki-laki. Memperkenalkan diri dengan nama Andreia Albertine, ternyata “wanita” itu bernama asli Andre Luiz Ribeiro Albertino – seorang lelaki tulen!
Menyadari kesalahannya, Ronaldo berusaha menyuap sang waria – yang membawa dua orang teman – masing-masing sebesar 300 dollar AS. Alih-alih menerima dengan senang hati, Andreia alias Andre itu malah mengancam akan menyebarluaskan skandal itu jika Ronaldo tak mau memberinya uang senilai 30.000 dollar AS!
Merasa diperas, striker berumur 31 tahun itu menolak membayar dan bermaksud pergi meninggalkan lokasi. Tak kehilangan akal, para pemeras itu malah berteriak-teriak membuat keributan yang berhasil menarik perhatian publik.
Esoknya, insiden itu menghiasi berita media-media di Brasil dan dikutip nyaris semua media besar di seluruh dunia. Video insiden itu – yang direkam Andreia alias Andre dengan kamera telepon genggamnya – muncul di You Tube dan langsung mencetak hit dalam jumlah pengakses.
Wajar jika saksi kejadian itu mengaku melihat Ronaldo menangis dan berkali-kali mengatakan bahwa kariernya akan segera berakhir jika kejadian itu diekspos ke ruang publik.
Secara legal, di Brasil tidak ada aturan yang melarang seseorang melakukan prostitusi. Artinya, Ronaldo tak akan terkena sanksi apa pun karena berusaha melakukan hubungan sex dengan membayar pekerja seks.
Bahkan, andai dia sampai melakukan hubungan dengan para waria itu sekalipun, tak ada hukum apapun yang bisa diberlakukan untuk menuntutnya. Namun, melulu persoalan reputasi, nama baik, dan citra kebintangannyalah yang tercemar dengan amat sangat.
Situs berita AP, misalnya, mengutip pendapat masyarakat yang menyayangkan kelakuan minus Ronaldo, "Ronaldo punya cukup banyak uang melakukan apa pun. Dia bisa menaklukkan wanita tercantik di dunia dengan segala kelebihannya. Tapi kenapa dia memilih tidur dengan para pelacur murahan itu?"
Intinya, lebih pada masalah moralitas yang dipertanyakan dari diri Ronaldo yang bagi sebagian kalangan seharusnya memberi teladan yang baik – dan bukannya malah memberi contoh seburuk itu.
Kadang manusia memang tak bisa menghindari khilaf, alpa, salah. Dan banyak di antara kita – kalau bisa dan boleh memilih – akan melakukan apa saja untuk menutupi keburukan yang sekiranya bakal berakibat fatal. Sebuah upaya yang amat sangat manusiawi, meski kadang justru membuat persoalan makin rumit dengan keharusan hidup dalam ketakutan, kebohongan, pun pengingkaran diri.
Padahal, boleh jadi justru akan lebih banyak manfaatnya jika kita jujur mengaku salah dan lantas sungguh menyesal, bertobat, dan memperbaiki diri daripada terus berusaha menutupi realita. Memang kadang risikonya tak terbayangkan dan tak tertanggungkan.
Tapi, bukankah itu harga yang harus dibayar untuk menebus kesalahan? Sebuah jalan untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat? Kenapa harus malu dengan kesalahan yang kita buat?
Angryanto Rachdyatmaka
(Tabloid SOCCER – www.duniasoccer.com
Injurytime.dagdigdug.com)
Dibaca : 1027 | Dikomentar : 0